Kemacetan di Puncak ini mulai terjadi sejak 2002. Ketika itu masyarakat Jakarta sudah banyak yang membangun vila di kawasan yang dikenal sejuk ini. Tak hanya itu saja, tempat wisata mulai bermunculan. Masyarakat pun ramai pelesiran ke Puncak.
Idiom Puncak adalah macet di akhir pekan sudah terpatri. Coba saja tanya ke setiap orang soal pergi ke Puncak di akhir pekan, pasti jawabannya macet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus yang sejak 90'an memiliki rumah di Gadog menuturkan, dahulu lalu lintas ke Puncak lancar. Tak perlu terhadang macet. Seiring ekonomi berkembang dan masyarakat yang tingkat kesejahteraannya semakin meningkat, Puncak pun berubah.
"Di sini banyak tempat wisata dan cocok dengan anak-anak, untuk wisata keluarga," urai Agus.
Dia pun memberi saran dan solusi soal kemacetan yang kerap terjadi di Puncak. Tak perlu melakukan pelebaran jalan, tetapi dikondisikan Puncak sebagai kawasan khusus.
"Jadi ada kendaraan khusus, yang ingin berwisata ke Puncak mobil dan motornya cukup parkir di Ciawi, selebihnya naik bus wisata," urai dia.
Hal ini bisa diberlakukan saat libur atau akhir pekan guna menghindari kemacetan. Jadi di Ciawi ada one stop ticketting untuk ke semua tujuan dan taman parkir.
"Pasti wisatawan akan nyaman menuju ke lokasi wisata, berkendara tanpa macet dan cepat sampai tujuan," urai dia.
Lalu bagaimana dengan penghuni atau warga Puncak? Agus punya solusi, tinggal diberi stiker, jadi penghuni tinggal menempelkan stikernya.
"Dengan model ini semuanya terintegrasi tempat wisata. Dan kawasan Puncak menjadi tempat wisata yang nyaman bebas macet," ujar dia.
(ndr/mad)











































