Presiden akan Canangkan Gerakan Nasional Berantas Sarang Nyamuk
Jumat, 11 Feb 2005 11:32 WIB
Jakarta -
Presiden SBY pekan depan akan mencanangkan Gerakan Nasional Pemberantasan Sarang Nyamuk. Masyarakat diimbau ikut terlibat aktif mencegah wabah demam berdarah dengue (DBD).Kegiatan itu dinilai sudah dianggap perlu karena jumlah penderita akibat wabah DBD sudah sangat menggelisahkan. Apalagi sudah menjangkiti 6 propinsi, yakni Jabar, DKI Jakarta, Sulsel, NTT, NTB, dan Kaltim.Demikian disampaikan oleh Menkes Siti Fadilah Supari usai menghadap SBY di Kantor Presiden jalan Medan Merdeka Utara Jakarta Pusat, Jumat (11/2/2005)."Pemberantasan DBD tanpa peran serta masyarakat itu tidak ada artinya. Jadi Presiden ingin masyarakat ikut terlibat aktif dalam pencegahan wabah DBD," katanya.Data penderita yang dimiliki Depkes per 7 Februari 2005 tercatat 5.064 kasus. Jumlah penderita yang meninggal mencapai 113 orang.Angka ini relatif jauh lebih kecil dibandingkan dengan kasus serupa pada tahun 2004. Pada periode yang sama, jumlah kasusnya mencapai hampir 20 ribu orang, dan korban meninggal 284 orang."Jumlah penderita jauh menurun dibanding tahun lalu. Tetapi karena sudah memakan korban jiwa, pemerintah merasa perlu pencanangan pemberantasan sarang nyamuk secara nasional," kata Siti.Saat pencanangan, urai dia, SBY akan memberikan instruksi bagaimana meningkatkan pelayanan kesehatan di daerah terpencil guna menurunkan jumlah korban meninggal akibat penyakit-penyakit menular lainnya, bukan hanya DBD. SBY juga akan memberikan instruksi adanya pelayanan asuransi kesehatan dan bagaimana agar harga obat harus terjangkau oleh masyarakat kelas bawah.Apa tindakan Depkes terhadap rumah sakit-rumah sakit yang menolak pasien DBD dan menarik bayaran? "Masyarakat sebaiknya segera melaporkan kasus itu kepada Dinas Kesehatan setempat untuk segera diselesaikan," ujar Siti.Dijelaskan dia, terkadang penolakan tersebut disebabkan karena pasien memang tidak menderita DBD, karenanya RS tidak bersedia memberikan pengobatan gratis. Sebab insentif biaya pengobatan memang hanya diberikan kepada pasien DBD."Namun kalau memang pasien diduga DBD, lebih baik digratiskan sambil menunggu diagnosa definitif dari hasil laboratorium," kata Siti.
(sss/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































