Inovasi semen hidup yang telah diterapkan di luar negeri seperti di Amerika Serikat dan Belgia itu diajukan sebagai usulan untuk solusi masalah infrastruktur yaitu jalan rusak.
Adalah kolaborasi Rhesa Avila Zainal (21) dan Corwin Rudly (20) mendaftarkan diri di ITB Innovators Move 2015.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menuturkan, saat kuliah kerja ke Sumatera, ia dan Resha merasakan bagaimana tak nyamannya perjalanan karena banyaknya jalan rusak. Saat itu keduanya terbersit untuk membagi ide penggunaan semen hidup. Pengetahuan semen hidup tersebut diperoleh dari hobi membaca dan berdiskusi dengan teman-teman.
"Sebelumnya kami ngobrol, memikirkan, apa yang kami ajukan untuk ITB Innovators Move 2015 itu. Kami ingin mencari permasalahan di negeri ini lalu ingin menjadi bagian dari solusi. Nah, pas kuliah kerja di Sumatera itulah lalu kita terpikir, sepertinya pas untuk memilih ide semen hidup itu," katanya.
Presentasi yang mereka buat bersama 4 teman mereka lainnya dibuat dalam bentuk studi literatur dari berbagai sumber. Saat itu banyak yang mengapresiasi ide yang mereka bagikan.
Corwin menjelaskan inovasi semen hidup yaitu pemanfaatan makhluk hidup berupa bakteri atau mikroorganisme sebagai campuran dalam semen dalam pembuatan beton. Bakteri tersebut bersifat mati suri, dimana ia dapat hidup jika mendapatkan stimulus seperti air hujan.
"Saat hidup, mereka dapat menghasilkan zat kapur," jelasnya. Sehingga secara sederhana, semen hidup memiliki kemampuan untuk mengurangi retakan pada beton.
Menurut Corwin, ide seperti ini perlu dikembangkan pula di Indonesia yang kerap bermasalah dengan jalan rusak. Untuk mengembangkan semen hidup ini, Indonesia perlu melakukan penelitian dari awal seperti bakteri yang berbeda dengan yang telah ditemukan di negara lain.
"Indonesia punya keragaman hayati yang lebih kaya untuk membuat bakteri atau mikroorganisme. Bahkan mungkin lebih baik. Sangat memungkinkan jika kita mengembangkan ini," tutur Corwin.
Setelah memenangkan ITB Innovators Move 2015, Corwin Cs belum terpikirkan untuk mengkomersialisaikan ide ini. Karena biaya yang dibutuhkan untuk meneliti hingga mengaplikasikan ide ini dinilai mahal.
"Kami berharap, pemerintah melalui peneliti-penelitinya seperti di LIPI bisa mengembangkannya. Karena kalau kami ruangnya terbatas. Kami hanya membagi ide saja," katanya.
Corwin bermimpi, suatu hari nanti ide berkonsep bioproses ini bisa benar-benar dibuat dan diterapkan di Indonesia.
(tya/ndr)











































