Tak Tersindir Pidato Mega, Luhut Pandjaitan: Masa Saya Oportunis?

Tak Tersindir Pidato Mega, Luhut Pandjaitan: Masa Saya Oportunis?

Ray Jordan - detikNews
Jumat, 10 Apr 2015 11:50 WIB
Tak Tersindir Pidato Mega, Luhut Pandjaitan: Masa Saya Oportunis?
Luhut Panjaitan
Jakarta -

Dalam pidato saat pembukaan Kongres PDIP di Bali, Kamis (9/4) kemarin, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyebut ada pihak oportunis yang menyalip di tikungan. Apakah Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Pandjaitan yang jadi menteri tanpa rekomendasi Mega merasa tersindir?

Luhut sendiri tidak mau menanggapi lebih jauh mengenai pidato Megawati. Namun, Luhut membantah jika dirinya disebut sebagai pihak oprotunis yang dimaksud.

Ditegaskan oleh Luhut, dirinya adalah orang yang menghormati Megawati, terlebih Mega pernah menjadi atasannya saat menjadi Presiden RI ke 5.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Masa saya oportunis? Masa saya prajurit dari bawah oportunis? Saya prajurit yang punya dignity. Saya menghormati Ibu Mega sebagai mantan bos saya dan sebagai mantan presiden," kata Luhut di Kantornya Gedung Bina Graha Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (10/4/2015).

Luhut juga menegaskan dirinya bukanlah kader PDIP, sehingga bukan menjadi keharusan untuk hadir dalam kongres terebut.

"Saya kan bukan anggota PDIP," katanya.

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri tiba-tiba menyebut ada pihak yang melakukan gerakan deparpolisasi. Mereka ingin memisahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan partai pengusung yakni; PDI Perjuangan, Partai Nasional Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Hati Nurani Rakyat serta Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia.

Gerakan deparpolisasi, kata Megawati, selalu mengatasnamakan independensi, dan bahkan menyebut partai politik adalah beban demokrasi. Putri pertama mendiang Presiden Sukarno itu pun tak memungkiri adanya berbagai kelemahan di partai politik saat ini.

Mega yakin bahwa gerakan deparpolisasi ini tidak berdiri sendiri melainkan ada simbiosis antara kekuatan anti Partai dan kekuatan modal.

"Mereka adalah kaum oportunis. Mereka tidak mau berkerja keras membangun Partai. Mereka tidak mau mengorganisir rakyat, kecuali menunggu, menunggu, dan selanjutnya menyalip di tikungan," kata Presiden ke-5 Indonesia itu saat Kongres PDIP di Sanur, Bali, Kamis (9/4).

(rjo/van)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini