Reaksi keras itu justru datang dari staf Bandara SSK II di bidang Airport Duty Manager, Baikuni. Dia menilai, pencopotan tersebut, tidak menyelesaikan persoalan mendasar apa yang terjadi sesungguhnya di lingkungan Bandara SSK II Pekanbaru.
"Pencopotan itu saya nilai tidak menyelesaikan masalah. Ini sama saja ibarat mengganti cok kabel. Comot sana sini, pasang sana sini. Jadinya ya masalah juga," kata Airport Duty Manager SSK II Pekanbaru, Baikuni di hadapan wartawan, Kamis (8/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa lagi, lanjutnya, saat kejadian Mario Steven Ambarita menyusup ke roda pesawat Garuda, GM Slamet Samiadji belum bertugas di Pekanbaru. Slamet baru menginjakan kakinya di Pekanbaru sehari setelah kejadian.
"Saat itu ada Plt GM, dan di tempat kita ada yang bertugas soal keamanan. Nah, sebaiknya ini harus menyeluruh dilakukan audit internal baik di daerah maupun pusat," kata Baikuni.
Kendati tidak bermaksud menolak atas pencopotan tersebut, bagi Baikuni, perubahan untuk menata bandara yang lebih baik lagi itu jauh lebih penting.
"Banyak hal yang harus kita perbaiki di bandara ini. Kalau copot sana sini, tapi sistemnya tidak diperbaiki percuma saja. Saya konsekuen, jika dalam kasus Mario ini, ada kesalahan, saya siap menerima risiko, diberhentikan sekalipun saya siap," kata Baikuni.
Baikuni pun menilai, pasca penyusupan Mario, secara kasat mata tidak ada perubahan peningkatan pengamanan di kawasan bandara.
"Anda lihat sendiri pasca kasus Mario, masih banyak bolong sana sini soal pengamanan. Itu artinya apa? Kalau bukan memang ada kekurangan di sana sini. Inilah yang mesti kita benahi bersama," kata Baikuni.
(cha/kha)










































