Para atase pertahanan datang ke gedung workshop PT TES di Desa Mekar Wangi, Lembang, Bandung Barat, Kamis (9/4/2015). Acara kunjungan ini difasilitasi oleh Kementerian Pertahanan yang sedang berusaha membesarkan industri alat pertahanan dalam negeri.
"Kita berpatokan pada aturan pemerintah mengutamakan produksi dalam negeri. Peluang kita lebih bagus lagi. Dari Malaysia sudah beli simulator ini. Keunggulan dari skill perorangan bagus. Kurang promosi dan pemasaran. Makanya step by step buka hubungan kunjungan," ungkap perwakilan Kemenhan, Kolonel Iskandar di lokasi.
Sebelum mengunjungi tempat workshop pembuatan simulator, para atase mendapat pemaparan dari Direktur Utama PT TES M. Mulia Tirtusudiro. Saat berkeliling, atase-atase melihat perancangan simulator Fight FMS (Full Mission Simulator), simulator helikopter, dan juga simulator tank.
"Grup kami company simulator terbesar di Indonesia. Pekerjaan kami based on project. Saya sebelumnya 20 tahun lebih di PT Dirgantara Indonesia, dulu IPTN. Pak Habibie mengajarkan kami mengenai teknologi dan kami berpikir teknologi harus tumbuh di Indonesia," jelas Mulia kepada para atase.
Dari berbagai simulator yang disaksikan perancangannya, atase-atase ini paling tertarik melihat simulator Xtra 330 untuk pesawat aerobatic. Salah satu staf staf TES, Handy, menunjukkan demo simulator dengan visual Bandara Halim Perdanakusuma.
"Kemenhan sangat dukung kita ambil contoh event ini. Sering bawa kami ke luar negeri untuk buka stand di pameran, terakhir di Brunei. Kita juga sering ikut pameran Indo Defence. Setelah itu ikut rentetan company dengan Prancis, Inggris, Amerika. Bussiness to bussiness. Di mata mereka orang Indonesia sudah bisa," ujar Bussiness Development Manager PT TES, M Taufik pada kesempatan yang sama.
"Tentara Jerman dan Swedia nyoba simulator dan bilang bagus. Dari situ kita menjajakan kerja sama. Swedia, Prancis Amerika. Kerjasama on project based, kalau ada project kita support. Pertama soal visual data based. Taiwan negosiasi untuk simulator helikopter dan tank multi-ranpur. Lagi develop, teknologinya sama,β sambungnya.
Salah satu atase yang cukup tertarik dengan simulator TES adalah atase pertahanan Meksiko Brigadir Jenderal Alexandro Iturria. Ia berharap kerjasama antara Indonesia dengan Meksiko bisa terjalin dalam hal simulator ini.
"Company ini sangat menarik, perkembangan di Indonesia. Tentu saja sangat tertarik, terutama flight simulatornya. Saya akan melaporkan ke negara saya, tapi untuk keputusan (membeli) saya tidak tahu. Saya hanya memberikan laporan. Yang jelas kita bisa menjalin kerjasama," tutur Iturria.
Hal senada diungkapkan oleh atase pertahanan Singapura Col Lawrance The Yew Kiat yang optimis bisa bekerja sama dengan PT TES, baik G to G (goverment to goverment), ataupun B to B (business to business).
"Respons dari perwakilan-perwakilan atase pertahanan yang hadir, tak hanya negara Asia, tapi perwakilan negara benua Eropa dan Amerika juga sangat positif. Kita berharap hubungan antara company ke company atau bisnis ke binsis antara Indonesia dan negara yang hadir bisa datang. Singapura juga optimistis bisa meningkatkan kerjasama yang lebih dalam bidang pertahanan dengan Indonesia," paparnya.
Meski menyambut positif, tidak semua negara bisa dengan mudah melakukan kerja sama dengan Indonesia. Seperti negara Jerman yang menurut atasenya tidak dengan mudah bisa saling bekerja sama dalam hal teknologi militer.
"Saya nggak bisa bilang, tapi mungkin kita bisa sharing-sharing. Kami punya expert di negara kami, mungkin bisa sharing pengalaman dengan Indonesia," tukas atase pertahanan Jerman Colonel Joachim Sproll.
"Terlepas dari hubungan ekonomi, ini soal militer. Kami juga punya banyak yang seperti ini di negara kami. Tapi semuanya all private. Nggak seperti di Indonesia kayak Pindad dan Dirgantara Indonesia, di Jerman untuk miliitary all private," imbuhnya.
(ear/gah)











































