Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Genman Hasibuan, mengatakan, hingga April 2015 sudah dua buaya ditangkap oleh warga di Aceh Singkil. Penangkapan pertama melibatkan tim BKSDA dan terakhir ditangkap oleh masyarakat dengan menggunakan pancing.
"Itu buaya yang ditangkap kemarin sangat besar. Itu ukuran paling besar yang pernah kita lihat," kata Genman kepada detikcom, Kamis (9/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menurut kita itu buaya paling besar, tapi gak tau apakah warga di sana pernah melihat yang lebih besar lagi atau tidak," jelasnya.
Konflik buaya dengan manusia sering terjadi di tiga kabupaten di Aceh yaitu Aceh Singkil, Aceh Jaya dan Aceh Timur. Untuk mencegah terjadinya konflik, Genman mengharapkan warga agar tidak melakukan aktivitas disekitar lokasi habitat reptil tersebut.
Selain itu, BKSDA meminta pemerintah kabupaten untuk memasang rambu-rambu larangan beraktivitas di sekitar lokasi habitat buaya. Bukan hanya itu, BKSDA Aceh juga menyarankan Pemkab agar mencari investor untuk membuat tempat penangkaran buaya.
"Nanti kita ambil buaya dari alam yang berkonflik kita bawa ke tempat pengangkaran hingga dia mempunyai keturunan," ungkap Genman.
Menurut Genman, konflik antara buaya dan manusia terjadi akibat kebiasaan warga memancing di lokasi sekitar habibat buaya. Genman mengaku BKSDA sangat menyesalkan pembunuhan terhadap dua buaya yang ditangkap oleh warga.
"Pelakunya bisa kena pidana itu karena buaya hewan dilindungi," ujar Genman.
(try/try)










































