Pesona Gunung Tambora Telah Mendunia, Namun Sayangnya Aksesnya Belum Optimal

Pesona Gunung Tambora Telah Mendunia, Namun Sayangnya Aksesnya Belum Optimal

- detikNews
Kamis, 09 Apr 2015 10:20 WIB
Pesona Gunung Tambora Telah Mendunia, Namun Sayangnya Aksesnya Belum Optimal
foto: Dheys/d'traveler
Bima - Ledakan Gunung Tambora 200 tahun yang lalu adalah salah satu ledakan terdahsyat sepanjang sejarah abad modern. Akibat ledakan itu, ketinggian Gunung Tambora menurun hingga separuhnya, yaitu dari 4.300 mdpl menjadi 2.815 mdpl.

Pasca ledakan itu, muncul kaldera terluas di dunia di bawah puncak Gunung Tambora. Pesona kaldera seluas 8 km persegi ini begitu menarik khususnya bagi para penggiat alam bebas.

Meski kini tidak terlalu tinggi, namun sejarah tentang Tambora dan kalderanya yang sangat luas menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki gunung dan peneliti. Sayangnya akses menuju gunung yang terletak di antara Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu ini masih sulit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari 3 jalur yang ada, salah satu akses yang paling mudah adalah melalui jalur Pancasila yang terletak di Dusun Pancasila, Desa Tambora, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, NTB. Namun jalur itupun terdapat banyak kendala. Di beberapa titik, ada jembatan yang rusak dan tak dapat dilintasi. Tak ada alternatif lain selain menerobos ke bawah dan masuk ke area savana.

detikcom bersama Tim Ekspedisi NKRI 2015 Koridor Kepulauan Nusa Tenggara melintasi kawasan tersebut dengan menumpang mobil dari Kota Bima. Tim melintas pada malam hari yang gelap dan sunyi. Tak ada penerangan di sepanjang jalan tersebut, sehingga tim hampir menabrak palang pembatas jembatan yang roboh. Tim akhirnya melintasi kawasan tersebut dengan menerobos savana di sebelah kiri jembatan.

Beberapa kilometer setelah jembatan rusak itu, tim kembali menemukan jalan yang putus. Beruntung tidak terjadi kecelakaan saat melintasi area yang gelap gulita tersebut.

"Memang banyak jalan yang rusak. Namun biaya untuk memperbaiki jembatan itu sangat mahal. Hampir sama dengan membuat sepanjang jalan di sana," kata Bupati Bima, Safrudin saat ditemui di kediamannya, Kota Bima, NTB, Rabu (7/4/2015).

Pengunjung disarankan melintas di kawasan tersebut pada siang hari. Namun perlu diwaspadai saat menyetir, sebab banyak binatang ternak yang tiba-tiba menyeberang jalan tanpa ditemani penggembala. Sebab ternak di daerah tersebut kebanyakan dibiarkan berkeliaran bebas.

Jalur menuju ke lereng Gunung Tambora dari Kota Bima ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam jika menggunakan kendaraan pribadi. Angkutan umum juga melintas di kawasan tersebut namun hanya pada waktu-waktu tertentu saja.

Menurut para warga setempat, salah satu hal yang menyebabkan Gunung Tambora kurang populer adalah karena sulitnya akses menuju ke lokasi. Hal itu juga diakui oleh Pemkab Bima. Pemkab mengaku kekurangan dana untuk membangun infrastruktur di kota yang dikelilingi pantai ini.


(kff/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads