Kasus Mario Dikhawatirkan Ditiru Teroris, Pihak Bandara Harus Perketat Keamanan

Penyusup di Roda Pesawat

Kasus Mario Dikhawatirkan Ditiru Teroris, Pihak Bandara Harus Perketat Keamanan

Herianto Batubara - detikNews
Rabu, 08 Apr 2015 10:13 WIB
Kasus Mario Dikhawatirkan Ditiru Teroris, Pihak Bandara Harus Perketat Keamanan
Mario Steven Ambarita (21) yang menyusup di pesawat. (ist)
Jakarta -

Kasus Mario Steven Ambarita (21) yang menyusup ke Pesawat Garuda Indonesia lewat roda amat sangat fatal karena bisa mengancam keselamatan penumpang. Evaluasi menyeluruh di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru harus dilakukan karena aksi tersebut bisa ditiru kelompok teroris.

"Aksi itu memang ada panduannya di internet. Mungkin Mario belajar dari website, tapi tetap butuh mental dan nyali yang kuat untuk praktik," ujar peneliti intelijen keamanan Universitas Indonesia (UI) Ridlwan Habib, Rabu (8/3/2015) pagi.

Dari hasil penelitian Ridlwan, diketahui sejak 1947 sebanyak 105 orang berusaha terbang dengan bersembunyi di ruang roda pesawat. Katanya, menurut data Federal Aviation Administration Civil Aerospace Medical Institute, ada 94 penerbangan yang berusaha disusupi. Dari 105 orang yang mencoba itu, 25 sukses, bahkan ada seorang anak berusia 9 tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu pada 22 April 2014 seorang pemuda 16 tahun berhasil bersembunyi di roda pesawat yang terbang selama lima jam dari San Jose California ke Hawai dengan pesawat Boeing 767. "Bandara secanggih Amerika Serikat saja bisa bobol, manajemen pesawatnya juga bobol," ucap alumni S2 Kajian Stratejik Intelijen UI ini.

"Keberhasilan Mario ini yang pertama dalam sejarah penerbangan Indonesia," sambung Ridlwan. Menurutnya, kasus ini harus diantisipasi serius oleh pihak pengelola bandara kenapa bisa diterobos.

Menurut Ridlwan, untung saja aksi nekad Mario itu tidak menghalangi roda pendarat keluar dari bodi pesawat. "Jika stuck atau macet, akibatnya fatal sekali, pesawat harus emergency landing tanpa roda pendarat," imbuh Ridlwan. Ahli kontra terorisme ini juga mengingatkan aksi Mario bisa menjadi inspirasi kelompok teroris melakukan serangan.

"Harus segera dilakukan evaluasi menyeluruh ke sistem bandara dan prosedur tambahan sebelum take off," ucap Ridlwan.

Plot serangan teroris dengan sasaran bandara dan pesawat, lanjut Ridlwan sebenarnya sudah diendus Densus 88 sejak pengungkapan jaringan Syaifudin Zuhri (pengebom JW Marriott) pada 2009. Saat itu, Muhammad Syahrir (tewas ditembak) adalah seorang eks teknisi maskapai penerbangan. Syahrir juga diduga sudah berupaya melakukan rekruitmen pada sejumlah orang yang bekerja di lingkup Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Ditambahkan Ridlwan, modus pembajakan pesawat juga pernah dilakukan kelompok Imron pada 1981. Mereka membajak pesawat Garuda dan mendaratkannya di Woyla Thailand. Aksi itu dilumpuhkan Kopassus pimpinan Sintong Panjaitan dalam sergapan tujuh menit.

"Aksi nekad Mario ini banyak memberikan pelajaran untuk aparat keamanan. Stop saling menyalahkan dan segera lakukan evaluasi dan langkah antisipasi," imbuh Ridlwan.

(bar/ndr)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini