"22 April (kita akan menyelenggarakan) Smart City Summit se-Asia Afrika. (Tujuannya untuk) Berbagi kebaikan di negara masing-masing sebagai upaya membangun solidarity antar negara," ujar pria yang akrab disapa Kang Emil di Kantor CSIS, Jl Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2015).
Smart City merupakan salah satu sistem berbasis pemanfaatan teknologi dan informasi untuk memaksimalkan sumberdaya yang ada agar pelayanan kepada warga bisa maksimal. Tujuannya untuk menghubungkan, memonitor dan mengendalikan berbagai sumber daya dalam kota agar dapat digunakan secara lebih efektif dan efisien.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang sama juga dilakukan Kang Emil. Dia ingin segala sesuatunya nanti terkunci dengan baik agar dapat digunakan tepat sasaran dengan pengontrolan yang baik.
"Kalau nantinya saya tidak terpilih lagi. Sistem yang sudah ada ini harus terkunci, agar peraturan Smart City dengan melalui pembuatan SOP. Gunanya jika nanti pimpinan setelah saya kalau ngga melek teknologi atau punya ide gagasan lain sistem pelayanan ini akan tetap terjaga seperti bagaimana nanti pengaturanโ e-musrenbang dan e-budgeting agar bisa dikontrol dan kuncinya pada regulasinya," sambungnya.
Pria yang juga menjadi dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menargetkan sistem Smart City bisa rampung dan stabil dalam waktu tiga tahun. Untuk mematangkannya, Pemkot Bandung juga akan melibatkan anak-anak muda.
"Target Bandung Smart City dalam 3 tahun sudah selesai semua. Kenapa melibatkan anak-anak muda Bandung, karena mereka tidak punya panggung maka sok, silakan, gunakan ruang yang diberikan untuk membangun Bandung dengan teknologi," kata Kang Emil.
Jakarta sendiri baru menerapkan sistem Smart City pada 15 Desember 2014 lalu. Menurut Ahok dengan konsep Jakarta Smart City, Pemprov DKI bisa mengawasi enam dimensi yang meliputi ekonomi, mobilitas, lingkungan, manusia, kehidupan dan pemerintahan.
(aws/nwk)











































