KSAU Perintahkan Pesawat Latih Bravo Tidak Dipakai Dulu
Rabu, 09 Feb 2005 12:08 WIB
Yogyakarta -
Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Chappy Hakim memerintahkan agar semua pesawat latih jenis Bravo AS 202 yang dimiliki TNI AU tidak digunakan untuk latihan sementara waktu. Selanjutnya, pesawat keluaran tahun 1980-an akan diteliti dan diperiksa kembali kelaikannya. "Saya meminta semua pesawat jenis Bravo AS 202 untuk sementara tidak dipakai latihan di semua Skuadron Pendidikan untuk diperiksa kembali kelaikannya," ujar Chappy Hakim kepada wartawan usai upacara pelepasan jenazah Mayor (pnb) Wahyu Widodo di Hanggar 1 Skuadron Pendidikan 101 Lanud Adisucipto Yogyakarta, Rabu (9/2/2005).Untuk latihan, lanjut Chappy, TNI AU masih bisa menggunakan pesawat latih jenis lain. Ia mencontohkan pesawat latih jenis Wongbee buatan Korea. "Jadi sambil menunggu hasil pemeriksaan, kita masih dapat menggunakan pesawat latih lainnya untuk latihan," jelasnya.Selain itu, Chappy meminta Panitia Penyelidikan Kecelakaan Pesawat Terbang (PPKPT) menyelidiki penyebab jatuhnya pesawat latih di perkampungan Dusun Juwangen-Grogolsari Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman, Selasa (8/2/2005), pukul 14.15 WIB. Jatuhnya pesawat itu menimpa rumah milik Apri Yulianto.Hingga kini, TNI AU belum mengetahui secara pasti penyebab jatuhnya pesawat latih itu. Berdasarkan laporan sementara, pesawat itu baru saja terbang selama 60 menit kemudian mesin mati dan jatuh. "Semua bangkai pesawat sudah dibawa di kesini (Lanud Adisucipto) setelah itu akan diperiksa oleh tim dan kemudian baru diketahui hasilnya," ungkapnya.Mantan Danjen Akademi TNI itu mengatakan biaya perawatan seluruh pesawat latih milik TNI AU sebesar 30 persen dari keseluruhan biaya perawatan pesawat. Namun, dia mengaku tidak ingat secara pasti berapa besarnya. Sementara, Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Lanud Adisucipto Yogyakarta Mayor (sus) Agus Suhadi, menjelaskan pesawat latih jenis Bravo AS 202 dengan call sign LM 2035 dengan pilot Mayor (pnb) Wahyu Widodo SIP dan awak Mayor (pnb) Muhammad Mukhson SIP melakukan penerbangan dalam rangka refreshing.Wahyu sudah lama tidak menerbangkan pesawat karena tugas di bidang lain. Karena itu, ia kembali ditugaskan sebagai instruktur penerbang di Sekolah Instruktur Penerbang (SIP). Selanjutnya, ia melakukan penerbangan dengan tujuan check pilot atau controlling pilot.Saat itu, kata Agus, keduanya lepas landas dari pangkalan pukul 13.30 WIB untuk melakukan penerbangan sortie dengan radius ring Yogyakarta, Purworejo, Boyolali dan kembali ke pangkalan. "Saat kontak terakhir sekitar ketinggian sekitar 500 feet dan sudah mengarah menuju pangkalan atau menuju runway tapi kemudian engine pesawat mati dan kemudian drop," kata Agus.
(rif/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































