Kapolda Sulawesi Tengah Idham Aziz memiliki catatan kejahatan Daeng Koro dalam berbagai aksi teror. "Ikut dalam kerusuhan Poso tahun 2000 dan bergabung dengan Laskar Jihad asal Jawa di Pandajaya sebagai Panglima Laskar Jihad," kata Idham kepada detikcom, Senin (6/4/2015).
Tahun tersebut merupakan kerusuhan sektarian di Sulawesi Tengah. Saat itu berbagai macam elemen masyarakat bergabung dan membuat sebuah laskar. Tahun berikutnya, di 2003, dia bergabung dengan kelompok NII pimpinan H Nurdin di sebuah masjid di Nunukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perlawanan desertir tentara itu berlanjut. Tahun 2007 dia ikut dalam perlawanan terhadap aparat kepolisian di Poso.
"Pada tahun 2009 bergabung di Pondok Pesantren Tahfidsul Quran Al Ridho pimpinan Ustad Basri dan pada tahun 2010 tinggal di Bukit Teqnologi Antang dan menyembunyikan sibgoh Daftar Pencarian Orang," kata Idham.
Tahun yang sama juga tercatat, Daeng Koro bersama Itang alias Muhammad Itang membantu Jasmin untuk melarikan diri dari tahanan Lapas Makasar.
Dia juga menggelar latihan militer di beberapa lokasi pada Juli 2011, yaitu mengikuti tadrib askary selama delapan hari di Mambi di Gunung Orekan, pelatihan militer di Gunung Handulang Kecamatan Walengrang Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
"Autad Rawa alias Daeng Koro bertindak sebagai instruktur strategi perang. Adapun pesertanya dari berbagai wilayah seperti dari Sulawesi, Jawa, Filipina, Malaysia dan Sumatra," ujar sumber detikcom yang ada di Densus 88/Antiteror. Daeng Koro juga terlibat dalam penyerangan Pos Brimob Loki di Ambon.
Perwira menengah yang namanya minta disembunyikan juga menyebut bahwa Daeng Koro terlibat dalam peledakan bom di McDonald's Makasar pada tahun 2002 pukul 10.00 Wita, Jl Ratu Indah.
Ledakan tersebut berasal dari bom rakitan yang dibungkus wadah pelat baja. "Akibat dari ledakan tersebut menewaskan 3 orang dan melukai 11 orang," ujar sumber tersebut.
(ahy/fjp)











































