"Yth. Pak Yanuar Nugroho, saya Akbar Faizal alumni IKIP Ujung Pandang jurusan Sastra (S1) dan Komunikasi Politik (S2) UI, sekarang anggota DPR RI. Saya ucapkan selamat atas jabatan mentereng sebagai deputinya Jenderal Luhut," demikian Akbar Faizal mengawali pesan politik yang kemudian bocor di Twitter tersebut.
Setelah itu Akbar mulai mengungkap kembali perjuangan tim sukses Jokowi-JK. Akbar menyebut Luhut memang bagian tim transisi dan cukup berperan namun tak sebesar peran Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akbar kemudian mengungkap perannya bersama tim saya pengusung Jokowi-JK yang berjubaku di seluruh nusantara.
"Tak boleh dilupakan sayap-sayap partai pengusung seperti PIR dari Nasdem dalam komando Martin Manurung dan Relawan Cik Ditiro dalam komando kawan-kawab PDIP. Pasukan PKB terutama Marwan Jafar berjibaku dengan kami di Timkamnas dalam komando Tjahjo Kumolo dan Andi Widjadjanto berkeliling Indonesia meneriakkan "Pilih Jokowi karena bla...bla...bla..."," kenangnya.
Anggota Komisi III DPR ini lantas menyindir soal masuknya lulusan Harvard ke Istana. Tim sukses Jokowi-JK tak lulusan Harvard namun mampu mengantar Jokowi ke istana.
Β "Tak ada anak Harvard di tim pemenangan kami, yang agak jauh kuliahnya itu paling Eva K. Sundari yang pernah sekolah di Inggris entah di mana. Saya tak terlalu paham pula apakah di Inggris sana dia menemukan suaminya yang orang Timor Leste dan membuatnya dimaki setiap hari oleh tim Prabowo sebagai Katholik sejati atau pengkhianat bangsa dan seterusnya. Rieke Pitaloka setahu saya kuliah di UI namun berkeliling dari kampung ke kampung sepanjang Jawa untuk meyakinkan ibu-ibu untuk memilih Jokowi dan berakibat dia disumpahi sebagai keturunan PKI di semua medsos," papar Akbar.
"Ada pula yang bernama Teten Masduki yang setahu saya hanya alumni IKIP Bandung namun fokus ke Jawa Barat dan meyakinkan semua seniman-seniman bermartabat untuk mendukung Jokowi seperti Slank atau Iwan fals atau Bimbo. Jika Anda tahu tentang "Konser 2 Jari" yang menjadi pamungkas kampanye dan membalikkan persepsi publik tentang besarnya dukungan massa terhadap Jokowi dan Prabowo di masa-masa krusial saat itu, itu adalah kerjaan Teten," ungkitnya.
Akbar kemudian kembali mengungkap jasa Luhut yang kini jadi Kepala Staf Kepresidenan. Menurutnya Luhut banyak bekerja kantor pemenangan yang dibentuknya. Akbar mengaku kerap juga terlibat diskusi dengan tim pemenangan tersebut.
"Di Bravo 5 Menteng dan berdiskusi or menelepon banyak orang yang saya dengar sebagai "orang LBP" entah di mana saja. Beberapa kali saya rapat dengan tim mereka di mana hadir para pensiunan Jendral yang --mohon maaf-- masih merasa sebagai komandan pasukan dengan berbagai kewenangan," beber Akbar.
Sebuah sindiran kemudian dilontarkan Akbar kepada Luhut Panjaitan. "Juga proposal beliau tentang sistem IT beliau yang cukup memarkir mobil di depan KPU dan seluruh data-data bisa tersedot. Kami di Jl. Subang 3A --itu markas utama pemenangan Jokowi Mas-- terkagum-kagum membayangkan kehebatan teknologi Pak LBP sekaligus mengernyitkan dahi tentang proses kerja penyedotan data tadi. Saya yang pernah menjadi wartawan senyum-senyum saja sebab sedikit paham soal IT. Senyumanku semakin melebar saat membaca jumlah dan yang dibutuhkan untuk pengadaan teknologi sedot-menyedot tadi. Dalam hal massa, tercatat 2 kali LBP mengumpulkan masyarakat Batak di Medan dan Jakarta untuk mendukung Jokowi-JK," bebernya.
Akbar kemudian mengungkap latar belakang ia menulis pesan tersebut. Akbar mengaku dirinya sebenarnya tak terlalu risau dengan masuknya orang Harvard ke istana. Namun kemudian Akbar menyindir juga soal masuknya lulusan Harvard ke istana.
"Saya juga pernah ke sana tapi sebagai turis. Otak saya memang tak akan mampu kuliah di sana. Lha wong saya orang desa. Bahasa Bugis saya juga jauh lebih lancar dari Bahasa Inggris saya. Namun soal Harvard ini membuat saya merasa "koq kalian menghina bangsamu sendiri? Merendahkan kualitas pendidikan bangsamu yang kabarnya akan kau katrol kualitasnya dengan cara memasukkan orang Harvard atau entah dari mana lagi di luar negeri sana? Mengapa kalian semakin jauh dari 'kesepakatan awal kita di tim dulu untuk menghormati bangsamu sendiri?' Mengapa kalian makin kurang ajar saja? Saya sebenarnya pernah ingin mempersoalkan lembaga bernama Kastaf ini sebab sejujurnya "tak ada" dalam perencanaan kami di Tim Transisi dulu," papar Akbar.
"Sekadar menginfokan ke Anda Mas bahwa Tim Transisi itu dibentuk Pak jokowi untuk merancang pemerintahan yang akan dipimpinnya. Tapi saya sungguh tak nyaman mempersoalkan itu sebab akan dituding macam-macam. Misalnya, akh karena AF kecewa tidak jadi menteri dan lain-lain," kata Akbar.
Akbar mengingatkan agar Yanuar dan teman-temannya di staf kepresidenan bekerja dengan baik dan fokus dengan tugas yang lebih membumi. Akbar tak ingin KIH dihajar oleh KMP di DPR lantaran kurang baiknya kinerja para staf kepresidenan.
"Misalnya, jangan biarkan kami di DPR dihajar bagai sansak oleh orang-orang Prabowo dalam kasus kenaikan tunjangan mobil pejabat, misalnya, hanya karena kalian tak mampu berkomunikasi dengan kami di DPR (atau parpol pendukung. Ini juga satu soal sendiri karena terbaca dengan kuat kalau kalian ring 1 Presiden kini sukses melakukan deparpolisasi) dan atau gagal meyakinkan publik akan seluruh keputusan-keputusan Presiden/pemerintah. Soal sesepele ini tak perlu kualitas Harvard," kata Akbar.
Di akhir pesan itu, Akbar meminta agar deklarasi orang Harvard masuk istana disudahi. "Saya merasa mengenal beberapa orang di Istana Negara tempat Anda berkantor sekarang. Entah apa mereka (masih) mengenal saya sekarang. Tapi saya nggak memikirkannya. Saya hanya minta kalian di sana berhenti melakukan hal yang tak perlu seperti deklarasi soal Harvard yang akan masuk Istana," katanya.
(van/nrl)











































