Sabar Subagyo alias Daeng Koro alias Abu Muhammad alias Autad Rawa alias Jimmy alias Ocep, memiliki rekam jejak panjang dalam dunia terorisme di Indonesia. Lepas dari dinas kemiliteran dia bergabung dengan kelompok teroris Poso. Dia diduga mengatur jalur keluar-masuk senjata api dari Moro, Filipina Selatan.
Daeng Koro, Pentolan Teroris Poso, tewas di tangan aparat pada Jumat (31/3/2015) pekan lalu. Pecatan tentara dengan pangkat terakhir Pratu ini dikenal sebagai otak dari serangkaian aksi teror di Indonesia, khususnya di Sulawesi Tengah. Pria kelahiran Palembang 15 Januari 1963 ini juga disebut-sebut piawai dalam taktik gerilya dan perang. Dia juga merekrut orang-orang untuk bergabung ke dalam kelompolk Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso.
"Pernah mengikuti pelatihan militer di Moro, Filipina," kata salah seorang perwira Polri, saat berbincang dengan detikcom, Senin (6/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rute penyelundupan dari Filipina ke Malaysia, dan masuk Indonesia dari Nunukan-Tarakan. Senjata dibawa ke Makassar melalui rute Surabaya," beber perwira yang enggan namanya disebutkan.
Kabag Penum Polri Kombes Rikwanto mengatakan, senjata-senjata yang diselundupkan Daeng Koro itulah yang kini menjadi inventaris MIT.
Daeng Koro yang merupakan desertir TNI AD karena kasus asusila ini dipecat pada tahun 1992. Dia lulusan Lulusan SMP dan masuk Tamtama Kodam IV Diponegoro. Komando Pasukan Khusus (Kopassus) mengatakan, Daeng Koro pernah berdinas di Komando Pasukan Sandy Yudha (Kopasanda), nama satuan sebelum berganti Kopassus.
Namun, saat seleksi Komando dia tidak lulus seleksi, karena hasil tes jasmani tidak memenuhi syarat sebagai prajurit Komando. Kemudian dia ditampung selama 4 tahun di Makopasus, Cijantung.
(ahy/fjp)











































