"Panel kita buat, dari para ahli dan tokoh biarkan mereka yang melakukan penilaian dan memberikan rekomendasi tapi tanggung jawab tetap di Kominfo. Saya sendiri juga ada di dalam Panel," ujar Menkominfo Rudiantara dalam seminar CSIS di Jl Tanah Abang III, Jakpus, Senin (6/4/2015).
Menurut Rudi, tim panel dibentuk karena sebagai pihak yang memiliki kewenangan untuk memblokir situs, Kominfo bukanlah ahli dalam hal konten. Untuk itu sejumlah tokoh seperti Din Syamsuddin dan Salahuddin Wahid dilibatkan dalam tim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hari ini siang ini kita ada rapat perdana dengan tim panel di kantor, tunggu saja hasilnya. Tim panel dari tokoh masyarakat dan para ahli, antara lain yang saya teleponin sendiri ada Pak Din Syamsuddin, Pak Salahuddin Wahid, banyaklah. Pak Bagir Manan juga bagian dari tim panel," sambungnya.
Bukan hanya menangani mengenai situs-situs radikal, tim Panel disebut Rudi juga menangani permasalahan-permasalahan lain. Seperti isu SARA, dan bahkan juga hak cipta.
"Sub Panel ada yang bagian pornografi, masalah SARA, bahkan perjudian, obat, makanan, termasuk soal hak cipta, proteksi karya-karya seni Indonesia, baik musik maupun film, karena banyak seniman yang karyanya-nya dibajak. Makanya Pak Sam Bimbo juga bagian dari panel. (Tim) ini untuk meningkatkan e-goverment." tutur Rudi.
Para anggota panel yang dipilih Rudi dipilih dari tokoh-tokoh yang mumpuni di bidangnya masing-masing. Mereka juga dianggap sebagai pihak yang memiliki kebijaksanaan lebih.
"Kenapa ada panel? Nomor 1 kita tingkatkan governance, supaya tidak ada lagi seolah suka-suka. Panel ini kan terdiri dari tokoh masyarakat dan ahli yang punya pengetahuan, kemudian bijak, wisdom," tutup ahli telekomunikasi itu.
(ear/fjp)











































