Perjalanan Berat Tim Percepatan untuk Evakuasi WNI di Yaman

Perjalanan Berat Tim Percepatan untuk Evakuasi WNI di Yaman

- detikNews
Minggu, 05 Apr 2015 17:28 WIB
Perjalanan Berat Tim Percepatan untuk Evakuasi WNI di Yaman
Jakarta - Upaya mengevakuasi WNI di Yaman yang sedang menghadapi konflik, bukan suatu hal yang mudah dilakukan tim percepatan evakuasi. Banyak rintangan dan kendala yang harus dilewati tim agar bisa mencapai ke daerah tujuan hingga memulangkan kembali para WNI yang masih berada di Yaman.

Tim percepatan evakuasi yang dibentuk Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dibagi menjadi 2 tim yakni untuk tujuan wilayah barat dan wilayah timur. Masing-masing tim harus menempuh perjalanan berat dan berliku untuk mencapai lokasi.

Seperti tim percepatan evakuasi Yaman untuk wilayah barat yang terdiri dari unsur Kemenlu dan Polri yang dipimpin oleh Wakasatgas Polri AKBP Tofik Ismail yang beranggotakan Kompol Elya Susanti dan Iptu Dede ini.‎ Tim baru bisa masuk ke Tarim, wilayah Yaman bagian timur selama 21 jam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tarim terletak sekitar 640 Km dari Sana'a dan sekitar 848 Km dari Salalah, Oman. Tim baru tiba di lokasi pada pukul 06.00 pagi waktu setempat, Sabtu 4 April 2015. Tak ada transportasi umum menjadi salah satu kendala bagi tim untuk mencapai lokasi tersebut.

"Kami harus berganti‎ kendaraan sebanyak empat kali untuk sampai ke Tarim ini, karena tidak ada transportasi umum seperti bus," ungkap AKBP Toriq dalam keterangannya kepada detikcom, Minggu (5/4/2015).

Tim pun harus menyewa kendaraan pribadi untuk bisa mencapai lokasi. Tidak hanya itu, sepanjang perjalanan, tim harus melalui pemeriksaan setidaknya 5 kali.

"Begitu sampai di Tarim dan bertemu dengan Ketua PPI Tarim, kami langsung menyusun rencana yang akan dilakukan dalam waktu dekat," ungkapnya.

Pendekatan ke Ribath

‎Untuk memperlancar proses evakuasi, tim ini rencananya akan bertemu dengan pimpinan Ribath Tarim (semacam pondok pesantren) dan sekitar 300 mahasiswa di Ribath. Dilanjutkan dengan pertemuan dengan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas al-Ahqaf, di mana 540 mahasiswa sedang menempuh pendidikan tinggi di universitas ini.

"Untuk menjajaki kemungkinan dapat dipergunakannya Bandara Udara Seiyun, Tarim (32km dari kota Tarim), tim juga akan bertemu dengan otoritas bandara tersebut," ujar Kasatgas Percepatan Evakuasi Yaman dari Polri Kombes Pol Krishna Murti.


Malam harinya, tim berencana untuk bertemu dengan sekitar 300 mahasiswa yang berada di wilayah Hadramaut dan sekitarnya. Awalnya, tim akan menjadikan Ibu Kota Hadramaut, Mukalla sebagai titik pusat koordinasi untuk mengumpulkan mahasiswa dan pelajar Indonesia.

Namun, menyusul insiden penyerangan bersenjata yang dilakukan oleh al-Qaeda, saat ini Mukalla dalam keadaan kurang kondusif karena kabilah-kabilah di Mukalla melakukan patroli bersenjata untuk menghalau kelompok al-Qaeda. Bandar Udara Mukalla saat ini masih dikuasai oleh Kabilah sedangkan pelabuhan dikuasai oleh al-Qaedah.

"Kabar terakhir, kontak senjata antara al-Qaedah dan aparat keamanan yang mencoba merebut pelabuhan dari tangan kelompok Al-Qaedah," imbuhnya.

Setelah melihat perkembangan situasi terakhir di lapangan, tim berencana menjadikan Tarim sebagai tiitik pusat koordinasi mahasiswa dan pelajar. Di samping kondisi Tarim yang masih kondusif, di wilayah tersebut juga ada sekitar 1.500 mahasiswa di sana, sementara di Mukalla berjumlah 500an orang.

Setelah mahasiswa yang akan dievakuasi dikumpulkan dalam safe house di Tarim, mereka akan diarahkan ke Salalah Oman baik melalui jalur darat dengan bus maupun dengan pesawat udara melalui bandara Seiyun untuk selanjutnya diterbangkan menuju Jakarta.

Untuk tim barat sendiri, direncanakan akan memasuki Negara Yaman pada hari Minggu pagi tanggal 5 April 2015.

"Saat ini Tim berada di Kota Jizan, Saudi Arabia sekitar 100 KM dari perbatasan untuk melaksanakan koordinasi dengan pihak KBRI dan otoritas setempat," tutup Krishna.

Tim yang akan me‎masuk ke wilayah barat ini adalah gabungan Kemenlu, Polri dan TNI AU. Untuk satgas Polri dipimpin oleh Kasatgas Kombes Pol Krishna Murti, dengan anggota AKBP drg Lisda Cancer (Pusdokkes), Kompol Dr Ihsan, Kompol Abdul Azis (BIK) bergabung dengan Tim Kemenlu.

(mei/kha)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads