"Kebanyakan dari mereka bilangnya 'Kalau sudah perang baru mau dipulangkan'," jelasDirektur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia (BHI) Kemlu, Lalu Muhammad Iqbal, kala ditanya apakah ada WNI yang belum bersedia dipulangkan.
Hal itu disampaikan Iqbal saat menunggu kedatangan para WNI dari Yaman di Common Lounge Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten pada Minggu (5/4/2015) siang. Salah satu pihak yang belum bersedia dievakuasi adalah anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemlu sebenarnya sudah mendesak pada PPI untuk dievakuasi pada 1 April 2015 karena kondisi Yaman semakin labil. Namun, saat itu PPI malah membuat pernyataan tak mau dievakuasi.
"Dan PPI, mereka membuat pernyataan untuk tidak ingin di evakuasi.β Tapi tanggal 2 April-nya timbul serangan lagi," imbuh dia.
Kemlu, imbuhnya, tidak bisa membuat target untuk memulangkan semua WNI. Namun, Kemlu tetap bertanggung jawab pada semua kondisi WNI di Yaman.
"Kita nggak bisa membuat target memulangkan mereka semua, tapi bagaimana kita memulangkan dari mereka yang mau dipulangkan. Tergantung dari mereka mau dievakuasi atau tidak. Tapi ini merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah, untuk memulangkan warga negaranya," tegas Iqbal.
Sebelumnya, Kemlu sedang berupaya mengevakuasi 2 ribuan pelajar dan mahasiswa RI di Yaman. Ketua Tim Salalah, Yusron B Ambary, dari Tim percepatan evakuasi Yaman Kemlu, mengatakan Tim sudah masuk ke Tarim, wilayah Yaman bagian timur pada Sabtu (4/4) pukul 06.00 waktu setempat setelah menempuh 21 jam perjalanan. Tarim adalah kota di Yaman sekitar 640 km dari Sana'a dan sekitar 848 km dari Salalah, Oman.
"Kami harus berganti kendaraan sebanyak empat kali untuk sampai ke Tarim ini, karena tidak ada alat transportasi umum, seperti bus, sehingga harus menyewa kendaraan pribadi. Selain itu sepanjang jalan tim harus melalui pemeriksaan sebanyak lebih dari 5 kali," kata Yusron seperti dilansir situs kemlu.go.id, Minggu (5/4/2015).
Begitu sampai di Tarim dan bertemu dengan Ketua PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Tarim, Tim langsung menyusun rencana yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Tim berencana menjadikan Tarim sebagai titik pusat koordinasi mahasiswa pelajar/mahasiswa.
Selain kondisi yang masih kondusif, jumlah pelajar/mahasiswa Indonesia di Tarim berjumlah sekitar 1.500 orang, sementara di Mukalla (ibu kota Hadramaut-Yaman Selatan-red) berjumlah 500-an orang.
"Setelah mahasiswa yang akan dievakuasi dikumpulkan dalam safe house di Tarim, mereka akan diarahkan ke Salalah Oman baik melalui jalur darat dengan bus maupun dengan pesawat udara melalui bandara Seiyun untuk selanjutnya diterbangkan menuju Jakarta," tutur Yusron.
(nwk/nrl)











































