Apapun nama atau alias yang diberikan, bagi saya cerita dibalik nama tokoh ini yang menarik untuk dikupas. Dalam usianya yang sudah 85 tahun, Pak Ned Saparno masih terbilang tajam baik daya ingat maupun daya pikirnya.
Pertemuan pertama kali saya dengan Pak Saparno adalah di bulan November 2014, saat saya dan keluarga—sebagai pendatang baru di Kanada—berkenalan dengan masyarakat dan diaspora Indonesia di KBRI Ottawa. Duduk semeja, Pak Saparno saat itu sangatlah bersemangat menceritakan nukilan pengalaman hidupnya bermukim di Kanada. Namun karena malam itu saya masih dipengaruhi oleh jetlag, tidaklah banyak kisah tersebut yang bisa saya cerna seutuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pak Saparno tiba di Ottawa, Kanada pada tahun 1955 bersamaan dengan Pak Mukti Ali, mantan Menteri Agama di era 1970-an serta Pak Subroto, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dan juga Sekjen OPEC (1988-1994). Apabila Pak Mukti Ali dan Pak Subroto menempuh pendidikan tinggi di McGill University di Montreal, Pak Saparno belajar di University of Ottawa. Mereka merupakan gelombang awal generasi muda Indonesia yang dikirim pemerintah keluar negeri untuk menuntut ilmu.
Dikisahkannya bahwa di era revolusi, dirinya ikut bergabung dengan Tentara Pelajar (TP) untuk melawan tentara kolonial Belanda di wilayah Jawa Tengah. Serupa dengan Presiden Joko Widodo, dirinya pun berasal dari Solo (Surakarta) dan sewaktu Pak Joko Widodo masih menjabat sebagai Walikota Solo, dirinya pernah bertandang ke balai kota dan berdialog tentang pengelolaan Kota Solo dengan merujuk pada tata kelola perkotaan di Kanada.
Di awal era reformasi, dirinya menaruh minat pada Partai Amanat Nasional (PAN) dan sempat ikut aktif sebagai simpatisan. Kontribusinya di dalam dunia perpolitikan di tanah air berakhir setelah lima tahun yang lalu Pak Saparno memutuskan untuk menjadi Warga Negara Kanada.
Satu pilihan yang tidak mudah menurutnya, karena rasa cinta tanah air menyebabkan dirinya tidak sedari awal memilih menjadi WN Kanada. Namun karena anak-anaknya telah memutuskan untuk berkarir dan menetap di Kanada, maka baginya beralih kewarganegaraan kemudian menjadi satu keniscayaan.
Sejak tidak lagi menjadi Warga Negara Indonesia, Pak Saparno ikut aktif di kegiatan diaspora Indonesia di luar negeri dan mewakili diaspora Indonesia di Kanada sewaktu menghadiri pertemuan diaspora Indonesia pertama di Los Angeles (2012). Dirinya mengaku tetap bersemangat untuk datang ke tanah air guna menghadiri Kongres Diaspora ketiga di tahun 2015 ini. Kongres diaspora Indonesia di luar negeri ini diinisiasi oleh Pak Dino Patti Djalal saat masih menjabat sebagai Dubes Indonesia di Washington D.C.
Tentunya dalam bilangan 85 tahun usianya dan rentang waktu 60 tahun bermukim di Kanada, Pak Saparno telah menyaksikan banyak hal, baik di Indonesia maupun di Kanada. Dirinya menyaksikan dari jauh perubahan pemerintahan di Indonesia dari era Bung Karno hingga ke era Presiden Joko Widodo.
Sama halnya, dirinya tidak saja menyaksikan namun juga ikut mengalami pasang surut peralihan pemerintahan di Kanada dari waktu ke waktu. Kiranya beragam peristiwa yang terjadi tersebut dipengaruhi oleh dinamika—dari dalam maupun luar negeri—dan tentunya pula diwarnai semangat zaman yang berbeda-beda.
Semangat zaman yang mewarnai Indonesia di era paska reformasi ini adalah perkuatan demokrasi seraya memajukan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Adapun Kanada—negeri dimana Pak Saparno memutuskan untuk berlabuh hingga akhir hayatnya—adalah negara demokrasi yang tergolong maju dan makmur.
Tentunya ada banyak hal yang kedua negara bersahabat ini bisa saling pelajari dan berbagi. Hal ini adalah satu keniscayaan, karena dari satu sisi saja, pendidikan misalnya, telah cukup banyak putra-putri terbaik Indonesia yang menimba ilmu di Kanada dan menerapkannya di tanah air.
Kiranya, adalah tugas saya selaku wakil pemerintah dan rakyat Indonesia untuk Kanada untuk terus mendekatkan dan meningkatkan hubungan bilateral Indonesia dan Kanada. Dalam pada itu, teringat saya akan petuah almarhum dan almarhumah orang tua di kala masih bersama dahulu: “berusahalah, dimana ada kemahuan di situlah ada jalan”.
*) Teuku Faizasyah, dubes RI untuk Kanada
(gah/gah)











































