Nurul Izzah Datangi Kontras, Minta Dukungan Demokrasi Malaysia

Nurul Izzah Datangi Kontras, Minta Dukungan Demokrasi Malaysia

- detikNews
Sabtu, 04 Apr 2015 16:38 WIB
Nurul Izzah Datangi Kontras, Minta Dukungan Demokrasi Malaysia
Nurul Izzah di Kontras (Yoga/ detikcom)
Jakarta - Putri tokoh oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, Nurul Izzah, menyambangi kantor Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Kedatangan Nurul untuk meminta dukungan solidaritas dari kalangan aktivis Indonesia.

Izzah tiba di KontraS sekitar pukul 13.45 WIB. Sebelum dia, adiknya Nurul Iman beserta anggota parlemen Malaysia, Chua Tian Chang datang lebih dulu ke KontraS.

Izzah menyebut saat ini pemerintah Malaysia sedang mengarahkan demokrasi menuju kebangkrutan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Malaysia, menemukan anggota parlemen ditangkap karena pidato di parlemen. Saya pikir ini bertentangan dengan masalah dasar kebebasan berekspresi," kata Izzah di kantor KontraS, Jl Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (4/4/2015).

Ia pula menceritakan pengalamannya saat ditangkap kepolisian Malaysia. Tuduhan terhadapnya karena pelanggaran pasal penghasutan/akta hasutan/sedition act 1948 di bawah Pasal 4 ayat 1.

Menurutnya politisi selain dia yang ditangkap adalah Sekjen dan Wakil Ketua Partai Keadilan Rakyat (PKR) yang merupakan partai oposisi. Hal ini kemudian berimbas terhadap penangkapan kartunis serta editor salah satu media di Malaysia yang mengkritisi penahanan Anwar Ibrahim.

"Dan itulah mengapa saya merasa bahwa rakyat Malaysia harus bangun. Ini karena setelah penghukuman terhadap pemimpin oposisi. Ini adalah kali keempat, Bapak Anwar Ibrahim ditangkap," tuturnya.

Sebelumnya, Nurul sempat ditahan kepolisian Malaysia, selama semalam. Menurut The Star, Nurul ditahan karena melanggar pasal penghasutan/akta hasutan/sedition act 1948 di bawah Pasal 4 ayat 1. Nurul bisa dibebaskan dengan jaminan dari kepolisian serta statusnya sebagai anggota parlemen.

Adapun adik Izzah, Nurul Iman mengatakan hal serupa. Dia menuturkan peristiwa penangkapan yang merembet kartunis hingga editor adalah permasalahan bagi kebebasan berekspresi di Malaysia.

Cara seperti ini memperlihatkan tirani pemerintahan Malaysia.

"Ekonomi dianggap lebih maju, tapi Malaysia masih trouble dalam kebebasan. Kami perlu ketua pembangkang untuk melawan penindasan ini," ujar Iman.
Dia menambahkan sebagai negara serumpun, Indonesia menjadi contoh yang baik dalam penerapan demokrasi. Dengan status negara muslim terbesar, Indonesia bisa menciptakan sistem demokrasi terbaik di dunia sejak reformasi.

"Papah (Anwar Ibrahim) tidak pernah gagal mengungkapkan Indonesia jadi negara mayoritas muslim yang paling demokratis setelah Turki. Kurangnya kesadaran pemerintah (Malaysia) terhadap kepentingan demokrasi menyebabkan suara ramai ditekan," sebutnya.

Dalam kunjungan ke KontraS, Izzah serta Iman diterima sejumlah penggiat HAM, hukum seperti Harris Azhar, Usman Hamid, dan Ray Rangkuti.

(hat/gah)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads