"Tidak punya motor. Selama di sana berangkat kuliah jalan kaki, kadang katanya naik ojek. Kalau di kampus ada bus kuning juga kan," ujar Mardoto.
Hal ini disampaikan Mardoto kepada wartawan di rumahnya di Griya Avia Ceria Jalan Elang 4 Tegalsari, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, Jumat (3/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencananya, sebelum berita duka itu datang, orang tua Ace akan mengunjungi Ace di Depok pada Jumat (3/4) hari ini. "Hari seharusnya kita punya rencana ke sana. Mau belikan sepeda untuk Ace," imbuhnya.
"Anaknya memang sederhana sekali. Anak rumahan. Tidak suka hura-hura," tutur Mardoto.
Dia juga mengaku, komunikasi yang terjalin antara dia dan anak-anaknya berjalan lancar. Ace selalu pulang jika libur panjang. Terakhir Ace pulang saat libur semester pada tahun baru lalu sampai Februari.
"Tidak ada firasat, makanya sangat kaget," kata Mardoto.
Mardoto yakin, anaknya meninggal bukan karena bunuh diri. Banyak kejanggalan yang dia rasakan dalam kasus ini.
"Harapannya, ada pengungkapan jelas, terukur, dan atas dasar fakta yang kuat. Jangan ada pemaksaan kesimpulan dengan kecenderungan hanya berdasarkan surat wasiat," tutur Mardoto.
"Kalau tidak mampu, jangan dipaksakan, diarahkan disimpulakan kalau anak saya bunuh diri," tegasnya.
Surat yang disebut-sebut sebagai wasiat terakhir Ace bertuliskan: will not return for please don't search for existence my apologies for everything eternally.
Pada Kamis kemarin polisi Depok menyebut Ace memiliki motor yang belum diketahui keberadaannya saat ini.
"Korban memiliki motor, nah itu yang masuk dalam penyelidikan Polri. Karena sampai hari ini keberadaan kendaraan korban belum diketahui apakah telah dijual atau dicuri atau hilang atau bahkan mungkin ada di dalam danau tersebut," kata Wakapolres Depok AKBP Irwan Anwar di kantornya.
(sip/nrl)











































