Sejumlah guru mengaku tidak bisa berbuat banyak. Menurut mereka, masalah ini muncul setelah kepala sekolah diganti mendadak. Akibatnya, berbagai persoalan administrasi muncul dan mengancam pelaksanaan UN online.
"Banyak persoalan yang belum bisa dijawab saat ini. Ditariknya 24 komputer oleh distributor karena sekolah tidak mampu membayar. Ini bisa berimbas ke persoalan lain," kata Sugiyono, salah seorang guru SMK tersebut, Kamis (2/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ditariknya 24 komputer membuat panitia harus mengubah rencana pelaksanaan UN bagi 340 siswa," kata Sugiyono.
Mengetahui kondisi itu, siswa menggelar unjuk rasa. Mereka memasang poster berisi kekecewaan. Sebagai bentuk keprihatinan, para siswa membubuhkan tanda tangan di sebuah kain panjang. Kekecewaan mereka bertambah karena sejumlah guru yang harusnya memberi materi persiapan pelaksanaan UN online justru tidak datang mengajar.
"Kami mau mendapatkan jaminan bahwa pelaksanaan UN online di sekolah ini bisa dilaksanakan," kata Syaiful Rahman, siswa kelas 12, di sela-sela aksi.
Sebenarnya para siswa berniat bertemu kepala sekolah, tapi sedang tak berada di kantornya. Para siswa akhirnya membubarkan diri dengan tertib setelah jam sekolah berakhir. Pihak yayasan belum bisa dikonfirmasi terkait kejadian ini.
(try/try)










































