Aksesoris Imlek Laris Manis

Aksesoris Imlek Laris Manis

- detikNews
Selasa, 08 Feb 2005 16:43 WIB
Jakarta - Sehari menjelang perayaan Imlek, para pedagang aksesoris dan makanan Imlek menangguk untung karena barang dagangannya laris. Pantauan detikcom dari Pasar Glodok, Jakarta, Selasa (8/2/2005), sejak siang hari, pasar yang terletak di kawasan keturunan Tionghoa ini sudah dijejali pengunjung. Bahkan mereka tidak hanya datang dari sekitar Jakarta saja, tetapi banyak warga luar Jakarta juga datang. Hal ini terlihat dari plat nomor mobil yang datang dari Bogor, Bandung, Semarang maupun Lampung.Kedatangan para pembeli dari berbagai kota ini tentu saja menggembirakan para pedagang. Seorang penjual makanan dan aksesoris, Siti 20 tahun, mengakui omzet penjualan pernik-pernik Imlek meningkat. Jika pada hari biasa, Senin sampai Jumat omzet perhari hanya sekitar Rp 300 ribuan, menjelang Imlek bisa sampai Rp 500 ribu lebih. Bahkan pada Sabtu dan Minggu kemarin, omzetnya mencapai Rp 1 juta lebih. Apa saja sih yang laku. Menurut Siti, kue yang sangat khas dalam perayaan Imlek adalah Dodol China atau sering disebut kue ranjang. "Kue yang paling sering diminati kue lapis yang memiliki filosofi, semakin banyak lapisannya, maka semakin banyak keberuntungan yang akan didapat. Tentunya harganya akan semakin mahal," katanya.Seorang pedagang lainnya Venny, 40 tahun di kawasan Pancoran,Glodok, mengatakan aksesoris yang paling sering diincar menjelang Imlek adalah lampion merah bertuliskan Gong Xi Fa Cai, yang biasanya dijadikan sebagai hiasan. Barang-barang lainnya patung kucing hoklai, yang dipercaya bisa mendatangkan banyak tamu. Barang-barang lainnya amplop angpau dan simpol-simbol tertentu yang berhubungan dengan Imlek. Seperti simbol sio setiap tahun. Tahun ini sio ayam, simbol dewa uang caiven, sebgai simbol keberuntungan.Namun, ada beberapa pedagang yang tidak mengalami kenaikan omzet ketika Imlek. Hal itu dirasakan Ibu Salihin 52 tahun, pedagang pakaian di pasar Glodok. "Kalau Imlek ini orang-orang lebih tertarik pada makanan dan aksesoris, sedangkan untuk pakaian Imlek ini tidak beda dengan hari-hari biasa."Saya justru merasakan jumlah pembeli pakaian di Glodok makin merosot. Karena sudah terlalu banyak mall, jadi orang cenderung memilih belanja di malla terdekat dibanding dengan pasar Glodok," imbuhnya. (jon/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads