Kubu Ical memang telah melaporkan penyelenggara Munas Ancol dengan tudingan pemalsuan dokumen. Dalam konferensi pers di Ruang Fraksi Golkar, Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (30/3/2015) sore, Bambang Soesatyo yang merupakan loyalis Ical menghadirkan Slamet Rasyid yang disebut sebagai kader Golkar dari Lampung Selatan.
"Saya diundang wakil ketua Golkar provinsi Lampung Selatan, dihubungi untuk ikut Munas. Sampai di Ancol, sebelum pelaksanaan Munas, ada janji uang Rp 500 juta. Yang Rp 200 juta sebelum, yang Rp 300 juta sesudah Munas. Prakteknya, cuma dikasih Rp 100 juta sebelum Munas dan sesudahnya tidak ada. Kita ke DPP minta pertanggung jawaban sisanya," ungkap Slamet dalam jumpa pers.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ke Ancol cuma ikut-ikutan saja karena diajak. Di situ tidak benarnya, ya yang diiming-iming itu. Saya tidak sebagai apa-apa di situ. Bisa kita simpulkan bahwa itu munas-munasan dan dipaksakan," ungkap Slamet sambil menunjukkan kartu peserta Munas-nya.
Slamet mengungkapkan bahwa ada usaha pemalsuan surat mandat di Munas Jakarta. Salah satunya adalah pembuatan kop surat dan stempel (cap) palsu.
"Yang tidak punya kop, bikin. Yang tidak punya cap, bikin cap. Saya juga bikin cap, mereka yang menyiapkan," ujar Slamet.
Slamet meminta maaf karena hadir di Munas Ancol. Dia siap mempertanggungjawabkan perbuatannya yang ia anggap sebagai suatu kesalahan itu.
"Saya siap jadi saksi, siap ditahan," ujarnya.
Bambang Soesatyo juga menghadirkan mantan juru bicara Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Adhie Massardi. Adhie membandingkan perpecahan parpol saat ini dengan yang terjadi di PKB di masa lampau.
"Parpol sekali terbelah akan sulit menyambung kembali. Contohnya PKB, di mana Munas Ancol Muhaimin yang lebih dipilih oleh pemerintah. Ini melemahkan NKRI," ujar Adhie.
Adhie melihat perpecahan di partai ini menyibukkan elite sehingga tidak ada yang memikirkan rakyat. Ia berpendapat hak angket atas Menkum HAM Yasonna Laoly adalah hal yang tepat.
"Sekarang PPP dibelah, Golkar dibelah. Dan ketika hak angket, ini yang cocok," sambungnya.
Sementara itu, Bambang Soesatyo menyebut ada upaya pihak-pihak tertentu untuk menggulingkan Presiden Joko Widodo. Namun, Bamsoet tak mau buka-bukaan soal kelompok yang ia sebut itu.
"Ada gejala-gejala atau upaya untuk mencoba mendegradasi atau menggulingkan presiden. Kelompok ini tahu di mana untuk masuk. Masuk lewat Kuningan, buat kegaduhan. Masuk lewat kenaikan harga BBM, masuk lewat politik, pembegalan demokrasi. Mereka berharap kekisruhan sampai presiden terancam kedudukannya," ungkap Bamsoet.
(imk/trq)










































