dalam rilis yang diterima detikcom Minggu (29/3/2015), sejak 27 hingga 30 Maret nanti, Din berada di Baoa, Pulau Hainan, Tiongkok, menghadiri BFA. Itu adalah forum bergengsi tingkat dunia yang menghimpun para penentu kebijakan (presiden, Menteri) khususnya dalam bidang ekonomi, perdagangan, dan CEO serta pebisnis dari berbagai negara.
Hadir dari Indonesia di antaranya Presiden Jokowi, Menko Perekonomian Sofyan Djalil, Menlu Retno Marsudi, Mendag Rahmat Gobel, Seskab Andi Widjajanto, dan Kepala BKPM Franky Sibarani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tampil menjadi narasumber antara lain, Master Sing Yuen, tokoh Buddha terkemuka dari Taiwan, Arcbishop Paul Kwong dari Hong Kong, dan Din Syamsuddin dari Indonesia. Din diundang untuk mewakili Islam.
Dalam pidatonya, Din menjelaskan prinsip jalan tengah Islam (wasathiyah) sebagai jalan keluar terhadap problematika peradaban dunia. Menjawab pertanyaan moderator dari Phoenic TV tentang fenomena radikalisme keagamaan dan terorisme, Din meyakinkan audiens bahwa tidak ada akar pada Islam bagi kekerasan dan terorisme.
Kelompok ekstrimis dan teroris, kata Din, hanya menyalahgunakan bahkan "membegal" Islam untuk kepentingan politik kelompok. Selain itu, radikalisme, ekstrimisme dan terorisme, lanjut Din, juga dipengaruhi oleh faktor-faktor non-agama seperti kesenjangan sosial, ekonomi, dan politik.
Bahkan, ditambahkan Din, tidak mustahil kelompok ini ikut direkayasa oleh pihak luar yang ingin merusak Islam melalui sebagian pemeluknya. Penjelasan Din tersebut mendapat sambutan positif dari moderator dan audiens yg memadati hall Boao Convention Center.
Boao Forum yang sudah berlangsung ke-14 kalinya ini sangat positif bagi perdamaian dunia. Khususnya dalam menyambut kebangkitan dan kemajuan Asia, sebagai kawasan abad baru.
(bar/bil)










































