Tasrip sering tinggal di pos kamling karena rumahnya tergenang banjir rob (limpasan air laut). Sabtu (28/3/2015) siang, seperti biasa pria yang hidup sendiri ini beristirahat dan tidur nyenyak di pos kamling RT 1 RW 3 Wonokerto Wetan, Wonokerto.
Di belakang pos kamling, sejumlah anak bermain adu tembak dan melempari rumah tawon berdiameter setengah meter dengan batu. Tentu saja, si tawon beterbangan mencari pengganggu. Anak-anak berlarian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tawon langsung mengeroyok dia (korban) yang masih tiduran di pos kampling," kata Casmuni (58), tetangga korban.
Korban kaget dan berteriak-teriak. Upaya warga untuk menolong sia-sia. "Mau menolong, tawon malah menyerang kami," tambahnya.
Tasrip tak kuasa menghadapi ribuan tawon. Beberapa saat kemudian, tak tampak lagi gerakan perlawanan dari pria tua tersebut. Saat dicek warga, Tasrip tak bernyawa. Di kepala dan tubuhnya terdapat luka akibat sengatan tawon.
Keponakan Tasrip, Harni (50), mengatakan, pamannya meninggal karena disengat tawon. "Iya, disengat tawon. Lukanya parah," tambah Harni.
Dikatakan Harni, korban memang sudah lama hidup sendiri setelah beberapa tahun terakhir ditinggal istrinya. "Rumahnya tergenang air rob, jadi dia lebih memilih pos kampling menjadi tempat istirahatnya ketimbang rumahnya," jelasnya.
Tasrip dimakamkan hari ini juga di pemakaman desa setempat.
(try/jor)











































