Tertib dan Disiplinnya Ribuan Pelayat Lee Kuan Yew

Laporan dari Singapura

Tertib dan Disiplinnya Ribuan Pelayat Lee Kuan Yew

- detikNews
Kamis, 26 Mar 2015 20:47 WIB
Tertib dan Disiplinnya Ribuan Pelayat Lee Kuan Yew
Singapura, - Negara Singapura dikenal dengan pendisiplinan masyarakat dalam banyak aspek. Paling tidak, hasilnya juga terlihat dari ketertiban antrean para pelayat‎ Bapak Singapura Lee Kuan Yew.
‎
Lee Kuan Yew disemayamkan di Gedung Parlemen Singapura. Para pelayat masih nampak mengantre panjang ‎yang berujung di depan Gedung Parlemen, 1 Old Parliament Lane, Singapura, Kamis (26/3/2016) siang hari.

Entah berapa jarak antara awal antrean itu ke Gedung Parlemen, karena memang pangkal antrean tak terlihat dari pantauan Gedung Parlemen. Namun menurut kabar setiap orang membutuhkan delapan jam mengantre, hanya untuk mendapatkan momen sekitar lima detik memberi penghormatan terakhir di depan peti mati Lee.‎

Di depan pintu masuk Gedung Parlemen, ada 16 mesin gerbang pemindai yang digunakan untuk memeriksa barang-barang bawaan‎ pelayat. Belasan petugas polisi nampak sibuk ke sana ke mari.
‎
Meski antrean mengular panjang, ditambah cuaca siang hari yang cukup membuat orang berkeringat, mereka masih bisa tertib, tanpa teriak-teriak, atau juga keluar barisan sehingga nampak tak sedap dipandang mata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Soal sampah, boleh dikatakan sekitar Old Parliament Lane ‎terlihat bersih. Tak nampak adanya ceceran sampah plastik, kulit buah-buahan, atau. botol kemasan minuman terserak. Memang ada tempat sampah hijau di sekitar antrean mendekat Gedung Parlemen.

Memang, jika kita berjalan-jalan agak menjauh dengan niat mencari sampah, sebenarnya Singapura juga tak benar-benar bersih 100 persen dari sampah. Bisa dilihat ada puntung rokok yang tercecer di jalanan, namun jumlahnya tentu tak sebanyak yang tercecer di Jakarta. ‎

Bila berpikir sederhana, agaknya memang kebersihan di Singapura juga ditunjang oleh minimnya pedagang kaki lima, misal saja tak ada penjaja kopi seduh keliling naik sepeda seperti di Jakarta. ‎Residu kemasan-kemasan makanan menjadi lebih minim ditemui.
‎
Mungkin, bukan berarti pedagang-pedagang kecil adalah biang kerok kotornya kota sehingga harus dienyahkan dari Jakarta bila Jakarta ingin bersih seperti Singapura. Hanya saja, rakyat Singapura tak perlu menjadi pedagang kecil di sepanjang jalan untuk menyambung hidupnya. Sistem di Singapura telah sedemikian rupa menyediakan tempat‎-tempat yang pas buat warganya, termasuk soal berjualan.
(dnu/fjr)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini