"Saya sudah perintahkan Kasubdit Gakkum untuk memeriksa anggota tersebut," kata Risyapudin saat dihubungi detikcom, Kamis (26/3/2015).
Tidak hanya itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Martinus Sitompul menggelar jumpa pers. Ia didampingi Kasubdit Keamanan dan Keselamatan (Kamsel) Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Irvan Prawirayudha, dan Ipda Supono, atasan Brigadir M, memberikan klarifikasi terkait peristiwa tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selasa (24/3) pukul 15.14 WIB
Dua orang anggota Subdit Penjagaan dan Pengaturan (Gatur) Ditlantas Polda Metro Jaya, Brigadir M dan Aipda K tengah mengatur lalulintas di seberang Gedung GKBI, Jl Gatot Subroto yang mengarah ke Cawang. Saat itu, keduanya memberlakukan buka-tutup arus lalulintas karena kemacetan terjadi di ruas jalan tersebut.
Pada saat buka tutup itu, seluruh kendaraan berhenti. Namun ada beberapa pemotor yang nyelonong lewat, salah satunya adalah pemotor yang belakangan mengaku diserempet oleh bus TransJ yang dikemudikan oleh J. Sementara bus TransJakarta dibiarkan melintas karena pada lajurnya.
Saat itu, pemotor tersebut menghampiri Aipda K yang berdiri di tengah jalan saat menyetop kendaraan. Sambil mengatakan 'Pak..pak, tolong pak. Saya hampir mati ditabrak busway (TransJ)', pemotor tersebut meminta tolong K. Pemotor tersebut langsung memalangkan motornya di jalur busway.
Kemudian Brigadir M yang berada di sekitar jaraknya 50 meter sebelum K atau tepatnya berada di depan GKBI. Brigadir M kemudian menanyakan apa yang terjadi. Setelah mendengar penjelasan pengendara motor, ia kemudian naik ke atas bus TransJ.
Namun sayangnya, saat itu dua anggota polisi ini tidak mengetahui persis di mana lokasi pengendara motor tersebut terserempet bus TransJ. Karena di lokasi sebelumnya, ada lokasi mix traffic, di mana semua kendaraan bisa melintas di lajur tersebut karena berada di posisi off ramp jalan keluar tol.
Saat di dalam bus TransJ, Brigadir M kemudian meminta sopir bus TransJ untuk memperlihatkan surat-surat kendaraannya. Namun saat itu, sopir bus TransJ tidak memperlihatkan surat-surat kendaraannya.
M terus mendesak agar sopir TransJ menunjukkan surat-suratnya. Di saat itulah para penumpang menjadi riuh. Penumpang berteriak jika yang salah adalah pemotor.
Saat keriuhan itu, M masih terus meminta agar sopir bus menunjukkan surat-suratnya. Hingga akhirnya, ia naik pitam dan bersuara lantang 'saya berhak..saya berhak!'.
Kemudian naik pengendara motor ke atas bus. Dia menjelaskan posisinya sebagai pengendara motor dan bus TransJ roda empat. Ia juga mengatakan dirinya hampir mati ditabrak bus.
Saat keriuhan itu, Brigadir M kemudian turun. Ia menjelaskan kepada K bahwa sopir bus TransJ tidak mau memperlihatkan surat-surat kendaraannya.
Melalui radio komunikasi, K lalu menyampaikan ke pimpinannya bahwa terjadi persitegangan di atas bus dan meminta saran atasannya. Wakasat Gatur kemudian mengutus Ipda Supono yang bertugas di Jl Gatot Subroto arah Slipi untuk mendatangi ke lokasi.
Setibanya di lokasi, Supono kemudian menghampiri pengendara motor tersebut. Ia kemudian menanyakan kepada pengendara motor tersebut, apakah ada kerugian materi atau mengalami luka, namun dijawab tidak ada. Supono pun menyarankan agar mereka berdamai dan hal itu disetujui pengendara motor.
Supono kemudian naik ke atas bus. Ia menyampaikan bahwa pengendara motor bersedia menyelesaikan secara kekeluargaan. Ia pun mempersilakan sopir bus untuk melanjutkan perjalanan.
Menurut Supono, pesoalan tersebut clear sampai situ. Anggota pun tidak menilang bus TransJ tersebut, sementara pengendara motor melanjutkan perjalanannya.
(mei/bar)











































