Ancaman Badai, Nelayan Yogya Belum Berani Melaut
Senin, 07 Feb 2005 17:22 WIB
Yogyakarta - Hingga Senin (7/2/2005) nelayan di Yogyakarta belum berani melaut menyusul ancaman badai tropis yang diperkirakan datang 5-10 Februari ini. Tapi warga yang belakangan ini mengungsi sudah kembali ke kediaman mereka dan beraktivitas biasa."Nelayan di Pantai Baron belum ada yang melaut, masih melihat situasi hingga menjelang 1 Syuro besok. Air laut saat ini juga masih pasang sejak siang hari tadi," kata Sumarjo seorang nelayan di Pantai Baron Tanjungsari Gunung Kidul.Menurut Sumarjo, pada hari Kamis hingga Sabtu pekan lalu memang ada beberapa orang warga yang memilih sementara mengungsi di rumah kerabat yang jauh dari pantai. Beberapa perahu dan alat penangkap ikan milik nelayan masih ada yang ada yang disembunyikan di ladang/tegalan menjauh dari kawasan pantai.Namun mulai hari ini beberapa orang mulai kembali beraktivitas di pantai untuk berdagang. Tapi mereka tetap dalam kondisi waspada dan terus memantau perkembangan di laut dari pinggir pantai. "Kalau yang turun ke laut cari ikan belum ada, tapi kalau yang berdagang sudah ada sebagian," katanya.Dia mengatakan, Tim SAR Baron, aparat desa Kemadang dan Muspika Tanjungsari saat ini masih terus bersiaga, karena situasi di lautan belum menentu. Situasi tak menentu ditandai dengan air masih pasang, suhu udara lebih panas dari biasanya dan angin masih bertiup kencang.Sementara itu di kawasan pantai Parangtritis, aktivitas mulai kembali normal. Beberapa bus rombongan wisatawan dari luar Yogyakarta sudah ada yang datang. Beberapa kios/warung makan serta hotel juga sudah ada yang buka.Sedangkan anggota Tim SAR Parangtritis melakukan pemantauan di sepanjang pantai selama 24 jam penuh. Posko pengungsian yang disiapkan Pemkab Bantul dan Pemprov DIY di Kecamatan Kretek sekitar 5 kilometer dari pantai saat ini juga masih kosong belum ada pengungsian.Di sepanjang pantai selatan di wilayah Bantul hingga Kulon Progo saat ini sudah dipasang enam sirene yang bisa terdengar hingga radius 3 - 5 kilometer. Di kawasan Parangtritis terpasang tiga buah sirene yakni di daerah Parangtritis, Parangkusumo dan Depok. Dua sirene terpasangn di Pantai Samas dan Pandansimo Srandakan. Sedangkan di Kulon Progo sirene terpasang di Pantai Glagah.Koordinator SAR Parangtritis, Suroyo mengungkapkan perlatan yang dimiliki tim SAR Parangtritis sangat minim pelampung, alat komunikasi HT, sepeda motor trail serta teropong. Perahu karet ada satu di Posko Kecamatan Kretek."Peralatan kami ini masih sangat minim dan ada yang sudah rusak seperti pelampung, apalagi bila bencana cukup besar itu benar terjadi bisa kewalahan," katanya.Menurut Suroyo, peralatan yang saat ini mendesak adalah genset karena listrik sering padam serta lampu baterai. Selain itu kendaraan untuk melakukan evakuasi seandainya situasi benar-benar gawat juga sangat diperlukan. Saat ini di posko tidak terlihat adanya kendaraan roda empat untuk operasional, kecuali mobil patroli polisi.
(nrl/)











































