Kecewa Mega, Marhaen Jateng Deklarasikan Pembaharuan PDIP
Senin, 07 Feb 2005 15:46 WIB
Semarang -
Meski kongres bakal digelar di Bali, suhu politik PDIP di Jateng lumayan panas. Sejumlah kader PDIP yang kecewa terhadap kepemimpinan Mega bersiap mendeklarasikan Gerakan Pembaharuan PDI-P.Gerakan Pembaharuan PDI-P itu akan dideklarasikan Jum'at (11/2/2005) di Panti Marhaenis Jateng, Jl. Brigjen Katamso Semarang. Menurut rencana, tiga calon Ketum PDI-P Guruh Soekarnoputra, Sophan Sophiaan, dan Arifin Panigoro bakal hadir. Juga, beberapa orang DPP ."Kami menilai Mega dan kabinet (pengurus) gagal mengemban tugas partai. Selama kepemimpinannya, PDI-P dikuasai beberapa gelintir orang. Melalui gerakan pembaharuan kami ingin mengoreksinya," kata Koordinator Komar (Komando Marhaen) Jateng Mardijo ketika ditemui di sekretariat, Jl. Kimar Semarang, Senin (7/2/2005).Mardijo yang juga mantan Ketua DPRD Jateng periode 1999 - 2004 ini mencontohkan kekalahan PDIP dalam pemilu legislatif dan presiden menunjukkan partai berlambang banteng itu banyak ditinggalkan massanya. Misi partai tidak bisa dijalankan oleh massa karena banyak kebijakan yang tidak mengakar.Mengenai deklarasi gerakan pembaharuan, Mardijo mengaku hanya menjadi fasilitator. "Orang-orang Jakarta meminta kita untuk melakukan ini (deklarasi). Kebetulan kita memang bersepaham dengan mereka. PDIP harus dikoreksi," tandas Mardijo sambil menyebut nama Arifin Panigoro.Ketika ditanya soal kehadiran tiga calon ketua umum, Mardijo memang memberi kesempatan kepada mereka untuk 'berkampanye'. Ketiganya dinilai lebih mampu memimpin PDIP dari pada Megawati. Hanya saja, soal siapa yang terpilih, kongreslah yang menentukan."PDIP bukan milik perorangan. Siapa pun boleh mencalonkan. Marhaen atau wong cilik harus tetap berkuasa dalam PDIP. Jangan mengorbankan marhaen hanya untuk kepentingan kekuasaan saja," terangnya.Mengapa tidak bergabung Kwik Kian Gie? "Sebetulnya platform kita sama. Mungkin permasalahan orangnya saja. Kita ingin melakukan pembaharuan dengan orang-orang kita sendiri," tandas lelaki yang pernah menjadi Ketua DPD PDIP Jateng ini.Biarkan SajaDitemui terpisah, Ketua DPD PDIP Jateng Murdoko memilih membiarkan saja adanya gerakan apa pun yang berada di luar struktur. Pihaknya mengaku hanya menunggu apa benar gerakan pembaharuan itu mempunyai dukungan dari kader PDIP."Kalau ia mendirikan struktur baru maka berarti mereka membuat PDIP tandingan. Soal sanksi kita bisa lakukan secara tidak tertulis," katanya di Kantor DPRD Jateng, Jl. Pahlawan Semarang.Murdoko yang kini menjabat sebagai Ketua DPRD Jateng ini menuduh Mardijo hanya mencari popularitas. "Dia sudah dua kali tidak aktif dalam kegiatan partai misalnya pemilu. Dia sama sekali tidak memenuhi syarat sebagai kader PDIP. Jadi saya harap dia tidak menggunakan nama PDIP," tuksnya.
(nrl/)










































