Sebuah rumah kecil berukuran 5 meter x 6 meter berdiri di sisi sawah di Kampung Cikendal, RT 04 RW 05 Kelurahan Cipageran Kecamatan Cimahi Utara Kota Cimahi. Rumah tersebut terlihat baru setengah jadi. Tembok belum diplester, lantai tanah, atap asbes, serta jendela dan pintu yang ditutup seadanya.
Sungguh tak menyangka, rumah tersebut ditinggali oleh seorang pensiunan polisi yang pernah menjabat sebagai Kapolsek di Garut pada 1987 silam. Soeparmin ditemani istrinya Imas Sumarni (63) menyambut hangat saat detikcom tiba di depan rumah mereka, Senin (23/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak ada banyak barang di ruang tengah. Begitu juga dua kamar yang terlihat dari ruang tengah. Tak ada barang elektonik, kecuali dua buah lampu dan alat pemanas air.
"Bapak lupa berapa lama jadi polisi. Pokoknya masuk tahun 1959, pensiun tahun 1987," ujar Soeparmin saat membuka pembicaraan. Imas istrinya menuturkan, Soeparmin kerap tak nyambung jika diajak ngobrol karena pendengarannya yang kurang.
Soeparmin pernah ditempatkan di kesatuan Brimob di Kalimantan Barat selama 20 tahun hingga kemudian dipindahkan ke Garut pada tahun 1979. Di Garut, Soeparmin sempat menduduki jabatan Kapolsek Cikelet dan Cisewu Garut.
"Pangkat terakhir Aiptu," katanya.
Saat masih berdinas, kehidupan keluarga Soeparmin terbilang berkecukupan. Namun setelah pensiun, mereka mulai kesusahan dan kesulitan ekonomi.
"Pas pensiun, anak-anak baru pada remaja," tutur Soeparmin. Saat itu, ia memiliki 6 orang anak dan kembali memiliki anak saat masa pensiun.
Karena tak memiliki tabungan atau usaha sampingan, Soeparmin berusaha keras mencukupi kebutuhan keluarga dari uang pensiunan. Dari tujuh anaknya, hanya 2 yang sampai tingkat SMA.
Uang pensiunan yang dijadikan satu-satunya sumber pun harus dipotong karena Soeparmin meminjam uang untuk membeli rumah di Garut serta untuk modal usaha anaknya yang kemudian tak berhasil.
"Potongan untuk bayar utang hampir Rp 1.800.000, jadi uang pensiun yang saya terima sekitar Rp 800 ribuan lah sebulannya. Itu untuk kebutuhan sehari-hari," tutur Soeparmin.
(tya/try)










































