Risma dianggap sosok pemimpin yang mengedepankan diri sendiri dalam tugasnya atau one man show. Dituding seperti itu, Risma hanya tertawa.
Ia memastikan dirinya bukan tipikal seperti yang dituduhkan dalam mengelola Kota Surabaya. Bagi Risma, manajemen kerjasama merupakan kunci utama untuk menuju cita-cita bersama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Risma, tudingan one man show itu karena media massa yang cenderung memilih dirinya sebagai narasumber daripada langsung ke kepala dinas.
"One man show itu di media. Wartawan itu nggak mau ke kepala dinas, maunya komentar aku. Akhirnya seolah-olah aku sendiri mengerti semua," ungkap Risma dengan tertawa.
Apa yang ditanyakan media selalu bisa dijawab lancar karena Risma memahami persoalan setelah mendapatkan penjelasan dari anak buahnya.
"Aku ngerti karena aku dijelaskan kepala dinas. Kalau tidak dijelaskan kepala dinas ya aku nggak bisa ngerti. Tapi saya memang suka mengkoreksi," tambah Risma.
Di dalam kesempatan bertemu dengan anak-anak muda yang menerjuni industri kreatif itu, Risma memberikan semangat dan banyak buah pikirannya untuk memenangkan sebuah 'pertempuran' di tengah masyarakat.
"Jadi ndak ada ke depan manajemen sendiri. Apalagi di dunia industri kreatif, harus kerjasama. Perubahan selalu terjadi. Hari ini beda dengan yang akan datang. Negara ini membutuhkan anak-anak yang tangguh yang tidak mudah putus asa," jelas Risma.
(gik/try)











































