Kehilangan orang terkasih tak ayal sangat memilukan, apalagi jika dengan cara yang sangat keji. Mungkin itulah yang dirasa keluarga korban begal, Mamat Surahmat (55), saat prosesi pemakaman juragan beras itu.
Pantauan di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, tempat Rahmat dimakamkan, Minggu (22/3/2015), Dony Rahmat Setyadi (25) bukan hanya terlihat berduka. Anak kedua Rahmat itu tampak murka dan emosi saat jenazah sang ayah dikebumikan.
Berdiri di pinggir liang lahat Rahmat, Dony tampak mengepalkan tangannya. Tubuhnya juga bergetar saat pria berkaca mata itu mencoba menahan emosinya. Matanya lurus menatap jenazah Rahmat ketika dimasukkan ke tempat peristirahatan terakhirnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihak keluarga dan kerabat berusaha menenangkan Dony dan mengajaknya untuk beristighfar. Pasalnya Dony seakan hendak meloncat turun ke dalam liang lahat.
Tak kuat menahan duka, Dony lantas menangis dan terjatuh lemas. Beruntung para kerabat dengan sigap menangkap tubuh Dony.
"Papa, ya Allah Papa. Papa jangan pergi!" teriak Dony histeris.
Bukan hanya Dony yang histeris saat prosesi pemakanan Rahmat. Sang kakak, Ani Setiani (26) berkali-kali berteriak sambil menangis penuh duka. Ia bahkan sempat merangkak ke bibir makam saat jenazah Rahmat hendak dikubur dengan tanah.
"Jangan ditutup. Papa kegelapan, kasihan papa nggak bisa nafas. Ayo bawa papa pulang," ujar Ani sesunggukan.
Anak pertama Rahmat tersebut beberapa kali jatuh pingsan selama prosesi pemakaman. Ani bahkan tak mau diajak pulang usai pemakaman. Begitu pula halnya dengan Dony yang terus menatap makam Rahmat dengan raut muka sedih. Setelah dibujuk keluarga, akhirnya kedua anak Rahmat dari istri pertama itu mau diajak pulang.
"Papa. Ani mau temenin papa di sini, kasihan papa sendirian nggak ada yang nemenin. Papa pulang sama teteh," kata lirih Ani sambil dipapah keluarganya ketika berlalu dari makam.
(ear/nrl)











































