Mega Dinilai Berhasil Regenerasi Kader, Tapi Posisi Ketum PDIP Belum Tergantikan

Survei Pakar Poltracking

Mega Dinilai Berhasil Regenerasi Kader, Tapi Posisi Ketum PDIP Belum Tergantikan

- detikNews
Minggu, 22 Mar 2015 15:47 WIB
Mega Dinilai Berhasil Regenerasi Kader, Tapi Posisi Ketum PDIP Belum Tergantikan
Jakarta - PDIP dinilai memiliki banyak kader potensial untuk memimpin partai berkat regenerasi yang dilakukan oleh Megawati Soekarnoputri. Namun, posisi Mega sebagai Ketum PDIP belum tergantikan oleh para kader tersebut.

"Kita harus berani katakan Mega berhasil bangun kader PDIP tapi belum berhasil jadikan kader itu sebagai pengganti dia," kata pengamat politik LIPI Ikrar Nusa Bakti dalam Pemaparan Hasil Survei Pakar & Opinion Leaders Seri II 'Menyongsong Kongres PDI Perjuangan: Regenerasi atau Degenerasi?' yang diselenggarakan Poltracking Indonesia di Hotel Sofyan, Jakarta Pusat, Minggu (22/3/2015).

Para pakar memberikan penilaian kepada 9 tokoh potensial di PDIP dan 4 di antaranya yang memiliki nilai di atas 7 adalah Joko Widodo, Ganjar Pranowo, Pramono Anung, dan Maruarar Sirait. Nama potensial itu seluruhnya di luar trah Soekarno.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda juga mengapresiasi keberhasilan Megawati dalam melakukan regenerasi di tubuh PDIP. Meski begitu, para tokoh potensial belum bisa menggantikan posisi Mega.

"Kita apresiasi keberhasilan Ibu Mega di satu sisi dalam regenerasi karena begitu banyak nama-nama yang muncul. Banyak nama yang dihasilkan oleh kepemimpinaan Ibu Mega," ucap Hanta dalam kesempatan yang sama.

Dari 9 tokoh potensial, para pakar yang menjadi responden di survei Poltracking merekomendasikan Jokowi sebagai caketum PDIP. Namun, realitas politik belum tentu sesuai dengan harapan publik. Nyatanya, Megawati sudah dipastikan akan mempertahankan jabatannya sebagai Ketum PDIP lewat Kongres di Bali mendatang.

"Ketum PDIP tetap Mega, realitas politik seperti itu. Publik berharap ada regenerasi, yang jadi degenerasi," ucap pengamat komunikasi politik Hamdi Muluk.

(imk/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini