Juragan beras di Pasar Ciracas, Mamat Surahmat (55) tewas setelah ditembak dan dibacok oleh kawanan begal. Saat kejadian diketahui Mamat membawa uang lebih dari Rp 500 juta dari toko grosirnya. Uang itu dibawa kabur oleh pembegal.
"Kemarin pukul 18.30 WIB pulang dengan sepeda motor dan seperti biasa bawa uang banyak. Setelah ditanya (ke pegawai) dari hasil penghitungan, uang yang dibawa pak Rahmat di atas 500 juta, yang dia bawa pakai motor," ungkap adik ipar Rahmat, Sukria Ramdhani usai pemakaman di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Sabtu (22/3/2015).
Rahmat memang biasa membawa uang saat berangkat dan pulang dari pasar. Kebiasaannya itu sudah ia lakukan selama puluhan tahun. Tak pernah ada pengawalan, Rahmat membawa uang omsetnya sehari-hari di dalam tas dengan mengendarai motor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada diungkapkan oleh Yadi, pegawai Rahmat yang juga merupakan juragan angkot itu. Meski membawa uang banyak, Rahmat selalu berpenampilan santai.
"Bapak tiap hari bawa uang, dari rumah ke pasar, dari pasar ke rumah pasti bawa uang banyak. Tapi santai hari-harinya, bawanya lebih dari Rp 20 juta, bisa 200-300 juta. Uang buat bayar-bayar sama omset," kata Yadi di lokasi yang sama.
Sosok Rahmat cukup dikenal oleh warga sekitar. Sebagai wiraswasta yang sudah puluhan tahun sukses menjalankan usahanya, Rahmat tak pernah sombong dan selalu tampil sederhana.
"Banyak yang kenal bapak, semua juga tahu bapak. Sederhana banget," kenang Yadi.
Rahmat tersungkur setelah dibacok dan ditembak oleh komplotan begal kemarin petang, Sabtu (21/3) pada pukul 18.30 WIB di Jalan Raya Bogor KM 25, Ciracas, Jaktim. Ia yang mengendari motor Yamaha RX King dipepet oleh 4 orang dengan 2 motor di depan Naga Swalayan.
Sang juragan beras sempat melawan dengan tangan kosong saat pelaku mencoba mengambil uang yang dibawa Rahmat. Empat begal itu akhirnya berhasil kabur bersama ratusan juta uang Rahmat setelah menembak dan membacok bapak 3 anak itu.
(ear/kff)











































