Berdasarkan pantauan detikcom, Sabtu (21/3/2015), tagar tersebut cukup ramai. Akun @RadioAfiliasi, misalnya, menulis “Mengapa BBG tidak membuat rencana aksi meningkatkan jumlah pendengar Siaran Radio VOA Bahasa Indonesia.?#SaveVoaIndonesianRadio”
BBG adalah Broadcasting Board of Governor, instansi pemerintah Amerika Serikat yang menaungi VOA. BBG megajukan pemangkasan anggaran ke Kongres AS untuk tahun anggaran 2016, dan salah satu yang terkena dampaknya adalah siaran radio VOA Indonesia yang rencananya akan dihentikan karena sepi peminat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
VOA disiarkan dalam sekitar 45 bahasa yang berbeda, dan salah satunya yang paling tua adalah Indonesia. Di Indonesia, konten radio VOA disiarkan oleh tak kurang dari 250 afiliasi yang tersebar di seluruh nusantara. Dalam usulan pemangkasan anggaran 2016, selain Indonesia ada siaran lain yang diusulkan ditutup, yaitu Laos dan Afrika Tengah. Sementara sebagian lagi mengalami pengurangan jam siar seperti Afghanistan dan Zimbabwe.
Selain meramaikan Twitter, pemrotes juga membuat petisi melalui change.org dengan judul “#SaveVOAIndonesianRadio: Jangan Stop Siaran Radio Berbahasa Indonesia.” Menurut keterangan yang tercantum di petisi, VOA bahasa Indonesia didirikan pada tahun 1943. Waktu itu namanya masih Seksi Bahasa Melayu.
Dengan bahasa itu VOA memberitakan mengenai perang di Pasifik, termasuk kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan setelah Jepang takluk pada tentara Sekutu tahun 1945. Setelah Indonesia merdeka, Seksi Bahasa Melayu berganti nama menjadi Seksi Bahasa Indonesia.
(gah/gah)











































