Terbukti pada Sabtu (21/3/2015) rumah-rumah penduduk di sekitar perkampungan Tengger tampak sepi dan nyaris tidak ada aktifitas yang dilakukan warga setempat. Bahkan jalan-jalan, gang perkampungan, hingga rumah-rumah warga nampak lengang. Rumah mereka tertutup, mulai pintu rumah, jendela, dan gorden tertutup rapat.
“Hanya anak kecil, dan para orang tua yang sudah lanjut usia ada di luar rumah, karena mereka tidak diwajibkan melakukan tapa brata,” ujar Misnan, salah satu warga Tengger.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misnan, mengaku untuk memperkhidmad tapa brata, beberapa jalan dan gang-gang ditutup menggunakan bambu, hal tersebut ditujukan agar tidak ada yang lalu lalang, hingga mengganggu tapa brata.
“Umumnya mereka yang menjalankan ibadah nyepi adalah yang masih sehat dan sudah dewasa,”tambahnya.
Namun pemandangan sepi di perkampungan warga Tengger, kontras dengan suasana di area wisata Gunung Bromo, tepatnya di dusun Cemorolawang, Desa Ngadisari yang malah di padati wisatawan.
Senada dikatakan Sudigo, warga Tengger, bahwa khusus pada perayaan nyepi ini, para wisatawan dihimbau berbicara pelan-pelan dan tak melakukan aktifitas berlebihan yang dapat mengganggu ketenangan umat hindu yang sedang merayakan nyepi.
Begitulah keharmonisan antara warga hindu Tengger dan wisatawan, bisa saling menghormati, sehingga ibadah nyepi dapat berjalan khidmat.
(fjr/fjr)











































