Pemerintah masih mempertimbangkan untuk menerbitkan Perppu bagi WNI yang bergabung dengan ISIS. Rupanya cara ini dinilai belum sepenuhnya efektif untuk menangkal masuknya paham ISIS ke Indonesia.
"Saya kira untuk menanggulangi penyebaran ideologi perlu cara yang lain. Tidak hanya sebatas menerbitkan Perppu, meski saya tak menyatakan kalau Perppu itu tak perlu. Perppu memang bisa memberi kuasa kepada para aparat untuk melakukan penindakan. Tetapi sebelum itu perlu dilakukan upaya represif," ujar sosiolog UGM Najib Azca saat berbincang melalui sambungan telapon, Jumat (20/3/2015) malam.
Nadjib kemudian menganalisis mengenai cara-cara yang dilakukan oleh ISIS untuk menyebarkan ideologi mereka. Setidaknya ada tiga cara yang dilakukan oleh kelompok radikal tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cara kedua adalah dengan menyatakan bahwa Iraq dan Suriah akan dijadikan basis kepemimpinan khilafah. Dengan demikian ISIS dapat merangkul pengikut baru yang memiliki pemikiran sepaham.
"Nah yang ketiga ini yang terbaru. Penggunaan strategi baru dengan insentif material. Mereka telah menduduki wilayah-wilayah di Iraq dan Suriah dan juga kuasai sumber daya ekonomi sehingga memiliki financial resources. Iming-iming itu mereka gunakan untuk mobilisasi dukungan. Bahwa terlibatnya elemen-elemen ekonomi membuat mereka semakin mudah untuk merekrut orang baru," kata pengajar UGM ini.
Saat ini memang belum ada angka statistik yang menunjukan jumlah pengikut ISIS di Indonesia. Namun penangkalan terhadap ajaran ini harus dilakukan sebelum menyebar luas.
"Dari cara penyebaran mereka yang pertama, berarti kita juga harus menggunakan cara yang sama yaitu dengan menggunakan media baru dalam melakukan counter ideologi. Kita juga harus sebarkan ajaran bahwa Islam itu agama yang mencintai perdamaian, bukan agama yang semata-mata memenggal kepala atau kekerasan. Kita gunakan kampanye yang positif lewat beragam cara, bisa lewat YouTube, WhatsApp, atau lainnya," tutur Najib.
Pemerintah juga dapat mulai mengumpulkan informasi mengenai pergerakan-pergerakan kelompok teroris yang disinyalir akan merapatkan barisan ke ISIS. Lewat aparat yang dimiliki, tentunya pemerintah memiliki data-data tersebut.
"Kemudian yang cukup efektif adalah dengan mendekati kelompok-kelompok berbasis massa Islam yang besar. Kita harus sebarkan ajaran yang damai lewat tokoh-tokoh di kelompok tersebut. Mereka biasanya memiliki pengikut yang loyal, sehingga dapat menangkal ideologi lain yang masuk," pungkas pria asal Pekalongan ini.
(bpn/rjo)










































