"Misalnya Densus 88, sampai kiamat Densus tetap ada. Begitu juga BNPT. Kan mestinya kita punya target. Kalau terorisme selesai 10 tahun, keberadaan Densus 88, BNPT ditargetkan 10 tahun. Kalau tidak, anda gagal dan harus dibubarkan," kata Mahfud saat dikonfirmasi, Jumat (20/3/2015).
Dia menjelaskan semestinya BNPT bisa melakukan konsep terkait kebijakan hingga koordinasi penanggulangan terorisme. Konsep ini diperlukan dengan penyesuaian tujuan serta target penanggulangan. Begitupun Densus 88 diharapkan bisa melakukan hal serupa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, jangan sampai anggaran yang sudah dialokasikan terkesan tidak dilakukan secara maksimal. Pasalnya, ISIS diduga mengincar rekrutmen baru dari negara muslim atau mayoritas muslim seperti Indonesia.
"Jangan sampai BNPT, Densus 88, atau unit kerja intelijen bekerja secara bisnis as ussual, di mana setiap tahun mereka dapat anggaran," tuturnya.
Lanjutnya, dia mengatakan kemunculan ISIS ini ada sisi menguntungkan dan merugikan. Namun, segi keuntungan ini dilihat secara negatif. Misalnya, keuntungan itu adalah pihak produsen penjual senjata. Sementara yang dirugikan seperti rakyat Indonesia.
"Yang rugi adalah kita. Sekarang kita jadi sibuk menari, jungkir balik di atas gendang orang lain," sebutnya.
(hat/iqb)











































