Hari ini (Jumat) merupakan puncak peringatan Hadeging Nagari Keraton Ngayogyakarta. Puncak peringatan dilakukan dengan semaan Al Quran dari pagi hingga malam hari. Dan ditutup dengan amanah dari Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Pada hari sebelumnya, peringatan diawali dengan ziarah ke makam Raja di Imogiri Bantul yang diikuti oleh Sentomo dalem, abdi dalem keprajan dan abdi dalem punokawan. Kemudian malam harinya Mujahadah Dzikrul Ghofilin di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Peringatan Hadeging menjadi sangat penting, karena terkait dengan keberadan Republik Indonesia yang kita cintai. Karena Ibu kota RI pernah pindah ke Yogya di saat mengalami kesulitan. Maka Hadeging Negari harus disyukuri dengan baik," kata Pengageng Tepas Dwarapura Keraton Yogyakarta KRT Jatiningrat.
Sementara Pengageng Karwabudaya Keraton Yogyakarta, GBPH Yudhaningrat menjelaskan gending Gajah Endro memiliki makna sakral dan merupakan simbol keberanian keraton pada masa penjajahan Belanda. Gending ini dimainkan oleh 27 niyaga keraton.
Semaan Al Quran ini selalu dilakukan setiap peringatan Hadeging Nagari. Semaan Al Quran diikuti warga dari berbagai daerah.
(jor/jor)










































