Pekan ini masalah yang diangkat adalah tentang kemacetan di Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR). Awalnya detikcom meminta para pengguna jalan untuk berbagi cerita melintasi lalu lintas Tol JORR.
Lebih dari 600 email masuk ke redaksi detikcom. Pengendara sebagian besar berkeluh soal kondisi macet di Tol JORR yang semakin parah setiap harinya. Ada yang terjebak dalam kemacetan hingga berjam-jam hingga kakinya kram, ada yang sampai turun dari kendaraanya dan memilih beristirahat di pinggir jalan hingga lalu lintas bergerak kembali. Ada juga yang memilih menghabiskan waktu macetnya dengan makan, tidur hingga menonton dvd. Parahnya lagi satu film selesai diputar namun kemacetan belum juga terurai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemacetan yang menggila itu membuat para pengguna jalan frustasi. Sebagian pengendara, baik bus umum maupun kendaraan pribadi bahkan membuat julukan sendiri untuk Tol JORR. Ada yang mengatakan 'jalur neraka' hingga 'Jakarta Outstanding Ring Road'.
Penyebab kemacetan ini juga beragam, mulai dari volume kendaraan, truk besar yang membawa barang dengan kapasitas berlebih, disiplin pengendara yang buruk hingga infrastruktur tol itu sendiri.
Banyaknya kendaraan yang datang ke Jakarta dari ke dua pinggir tol Jakarta, misalnya Jagorawi dan Cikampek, dianggap menjadi penyumbang terbesar kemacetan di Ibu Kota ini. Jakarta tanpa kedatangan kendaraan dari pinggir kota sudah padat, apalagi jika ditambah kendaraan dari luar ibu kota, maka buntutnya adalah kemacetan yang semakin panjang.
Sementara untuk truk, sejak jalur JORR W2 yang menghubungkan Merak dan Bandara Soekarno-Hatta diresmikan pada Juli 2014, JORR menjadi terhubung tanpa putus melingkari wilayah luar Jakarta dari Penjaringan hingga Rorotan. Hal ini berimbas pada meningkatnya jumlah kendaraan yang masuk Tol JORR, salah satunya truk yang berasal dari pelabuhan.
Data dari PT Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (JLJ), peningkatan volume kendaraan terjadi hingga 15 persen. Sebelum W2 beroperasi, truk yang masuk JORR di hari kerja dalam kurun waktu sebulan berada di angka 50 ribu. Setelah W2 beroperasi, jumlahnya meningkat menjadi 60 ribu.
Truk-truk tersebut melintas dari Sumatera melalui Pelabuhan Merak untuk mendistribusikan barang ke Jawa hingga luar pulau Jawa dan sebaliknya. Sehingga sebagian besar memang terlihat muatannya banyak dan tinggi hingga melebihi batas badan truk. Beban yang berat membuat truk tak bisa melaju kencang atau di atas batas minimal kecepatan di jalan tol, yakni 60 km/jam. Belum lagi jika truk tak melaju di jalur khusus truk di lajur 1, tetapi semua lajur diambil hingga mobil kecil harus ikut berjalan pelan di belakang truk. Akibatnya kemacetan tak terhindarkan.
Para pengendara yang tak disiplin juga jadi penyebab kemacetan. Misalnya, banyak yang mengambil bahu jalan untuk menyalip kendaraan di depannya atau melaju di bawah kecepatan minimal tol, padahal jalan di depannya kosong.
Sejumlah solusi dicoba untuk mengurai kemacetan oleh pihak pengelola Tol JORR yaitu PT Jalantol Lingkarluar Jakarta (JLJ) bekerja sama dengan Kepolisian dan Dinas Perhubungan. Mulai dari menilang sopir truk yang membawa muatan melebihi kapasitas, mengimbau agar truk melalui lajur 1, membuat sodetan Fatmawati, hingga rekayasa lalu lintas. Namun hal tersebut belum berhasil mengurai kemacetan yang ada.
Usulan dan saran bermunculan dari para pengguna jalan dan pakar. Ada yang mengusulkan agar dibuat batasan jam khusus truk di Tol JORR, seperti yang sudah dilakukan di Tol Dalam Kota (Tol Dalkot). Truk diusulkan dilarang melintas pada jam-jam sibuk, yakni pagi dan sore hari.
Selain itu ada juga yang mengusulkan agar dibangun fasilitas kereta barang khusus bandara, kereta pelabuhan, tol laut, Commuter JORR hingga Trans JORR. Fasilitas ini dinilai bisa mengurangi kemacetan dengan cara mengalihkan pengguna mobil pribadi ke transportasi publik.
Saran tersebut lalu disampaikan ke pihak terkait, seperti para pakar transportasi dan kebijakan publik, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), PT JLJ yang menjadi operator dan Kementerian Perhubungan sebagai pembuat kebijakan.
Soal pembatasan jam khusus truk sudah diusulkan PT JLJ ke BPJT. BPJT juga sudah mengusulkan ke Kemenhub. Namun hal itu butuh waktu tak sebentar, aturan tersebut harus dikaji lebih dalam.
Saat ini yang sudah dilakukan pihak JLJ adalah dengan menerapkan sistem buka tutup truk di Tol JORR KM 42, Cikunir.
Sejak Kamis (19/3) kemarin sistem buka tutup untuk truk di Cikunir KM 42 dilakukan oleh pengelola Tol JORR. Truk yang datang dari arah Cikampek dan Utara Jakarta dialihkan ke bahu jalan yang sudah diberi pembatas. Truk-truk itu akan ditahan selama 3-5 menit, lalu dilepaskan 5 sampai 10 truk sekaligus sekali jalan.
Uji coba ini dinilai cukup efektif untuk mengurangi kemacetan. Banyak warga dari arah Bekasi ke Jakarta atau Bogor merasakan keuntungan dari sistem ini. Misalnya perjalanan dari rumah ke kantor jadi lebih cepat satu jam dari sebelumnya, ada juga yang merasakan banyak titik kemacetan berkurang. Mereka juga menyampaikan apresiasi kepada pengelola tol yang sudah melakukan hal tersebut dan berharap agar sistem ini terus dilakukan agar kemacetan di Tol JORR berkurang.
Tentu sistem yang sudah diterapkan ini diharapkan berjalan secara konsisten, tak hanya saat disorot media. Diharapkan pula pihak pengelola dan pembuat regulasi jalan tol mencari solusi untuk kemacetan-kemacetan di ruas jalan lain.
(slm/trq)











































