Fantastis, 4 Bulan dalam Setahun Orang Melayu Libur!
Senin, 07 Feb 2005 10:05 WIB
Jakarta - Berapa hari orang Malayu menikmati libur kerja dalam setahun? Cukup menggiurkan, nyaris 4 bulan!Itulah itung-itungan Kurnia MG Hutapea, WNI yang menetap di Baltimore, Maryland, USA, dalam e-mailnya pada detikcom, Senin (7/2/2005). Dia berkomentar soal tanggal merah yang di Malaysia -- yang jumlahnya nyaris sama dengan di Indonesia -- yang memicu perdebatan.Berikut e-mail lengkap Kurnia:Sebagai warga negara Indonesia, pandangan saya terhadap hari libur yang terlalu banyak, di Malaysia (sekitar 90 hari dalam setahun, termasuk hari Sabtu dan hari Minggu) akan membuat mental warga Indonesia dan Malaysia semakin "melayu" saja. Artinya, semakin membuat warga Melayu ini menjadi pemalas dan penyantai.Kalau mau tahu yang lebih parah lagi, mari kita coba lihat kantor Kedubes Indonesia di negara-negara lain, contohnya kantor Kedubes Indonesia di Washington DC. Selain mereka mengikuti jadwal libur di negara Indonesia sendiri, mereka juga mengikuti jadwal libur negara USA yang jumlahnya sekitar 10 hari dalam satu tahun (tidak termasuk hari Sabtu dan Minggu).Berarti orang orang Kedubes itu mendapat libur 100 hari dalam setahun (dengan asumsi jumlah libur di negara Indonesia sama dengan negara Malaysia). Belum termasuk cuti sebanyak 10 hari kerja dalam setahun, berarti "liburnya" menjadi 120 hari dalam setahun. Artinya, 4 bulan dalam satu tahun (12 bulan), warga Melayu ini libur. Bayangkan...betapa "melayunya" orang-orang Melayu ini.Tapi, masih bisa kok kita mengubah mental mental "melayu" ini. Kalau mau, kurangilah jumlah hari hari libur itu, supaya kita lebih produktif, lebih maju dan akhirnya kita bisa menjadi negara yang lepas dari kungkungan mental-mental "melayu" itu tadi. Ayo kita bangkit dan ayo kita semua kerja dengan sedikit lebih keras.Pembaca lainnya, Edison tak mempersoalkan banyak sedikitnya hari libur. Pasalnya, libur atau tidak, kinerja aparat pemerintah begitu-begitu saja. Berikut penuturannya:"Mungkin agak berbeda dengan di Malaysia, di Indonesia libur tidak libur pelayanan publik yang sebegitu-begitu saja. Jadi tidak masalah sama sekali, mau libur panjanggggggggggggggg sekalipun," katanya.Pembaca lainnya, Paulus Darmawan menganggap banyak libur mengganggu aktivitas bisnisnya. "Saya termasuk salah seorang yang tidak setuju dengan banyaknya hari libur. Menurut saya itu tidak ada gunanya dan sangat menggangu bisnis saya karena banyak dari kegiatan terhenti, klien liburan. Berapa besar coba kerugian yang diderita?"Pembaca lainnya, Umy, menyambut senang hari libur. "Kalau aku sih asik-asik saja, senang karena bisa lebih banyak berkumpul bersama anak-anak dan kumpul-kumpul keluarga. Menikmati liburan dengan jalan-jalan keluar kota."
(nrl/)











































