Sungai itu meluap pada Kamis (19/3) sore kemarin. Pemicunya hujan turun deras yang turun di sisi Selatan atau daerah atas. Sungai ternyata tidak mampu menampung debit air hingga meluap. Seketika air bercampur lumpur menerjang puluhan rumah yang berada di Blok 7 itu.
Ketinggian air bervariasi yang mencapai leher orang dewasa membuat warga panik dan berusaha menyelamatkan diri. Sejumlah warga menyelamatkan diri ke masjid, meski demikian perabotan mereka tidak bisa diselamatkan karena saking cepatnya peristiwa tersebut berlangsung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga dini hari tadi, warga dibantu personel TNI dan Polri membuat antisipasi dengan membangun tanggul dari karung berisi pasir. Kendati begitu, warga masih was-was jika daerah atas atau Kabupaten Semarang kembali dilanda hujan deras, lagi alamat sungai kembali meluap.
"Ini sudah yang keenam kalinya, sejak satu setengah tahun yang lalu. Ini perumahan baru," ujar warga lainnya, Leo.
Pemerintah Kota Semarang sejak pagi tadi memberikan bantuan darurat dengan mengerahkan alat berat untuk membuat tanggul sementara. Saat Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi meninjau lokasi perumahan tersebut, warga sempat meluapkan emosinya.
"Ini pengembang tidak datang. Ini sebenarnya zona merah kenapa disulap jadi perumahan, alih fungsi komersil," ujar Leo.
Menanggapi hal itu, Hendrar mengatakan saat ini pihaknya fokus memberikan bantuan darurat kepada warga yang tertimpa bencana. Namun pemkot juga sudah mengagendakan pemanggilan terhadap pengembang perumahan Dinar Indah terkait bencana yang terus berulang itu.
"Ini sementara kita buat tanggul, ada juga dapur umum. Tadi beberapa warga kesal ke pengembang. Hari Senin kita panggil empat pengembang, kita coba untuk cari solusi," kata Hendrar.
Seorang ibu juga berkeluh kesah ke Hendrar karena buku pelajaran putrinya basah bahkan tertutup lumpur.
"Ya nanti akan kita bicara dengan dinas pendidikan. Kita data dulu," jawab Hendrar.
(alg/rul)










































