Kemesraan Satu Malam Agung dan Ical

Kemesraan Satu Malam Agung dan Ical

- detikNews
Jumat, 20 Mar 2015 10:09 WIB
Kemesraan Satu Malam Agung dan Ical
Jakarta - Ketum Golkar dari dua Munas yang berbeda, Aburizal Bakrie dan Agung Laksono, bertemu secara tak sengaja di sebuah acara di Kemang kemarin malam. Pertemuan tersebut jadi sebuah pertanda baik bagi Golkar yang dirundung perpecahan.

Ical dan Agung bertemu di pesta ulang tahun yang diselenggarakan seseorang sahabat bernama Adi Warsita. Pesta ulang tahun itu digelar di sebuah cafe di wilayah Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (18/3) pukul 23.00 WIB kemarin malam.

Dalam pertemuan itu, keduanya duduk bersama di satu bangku dan berbincang santai. Tak ada raut permusuhan yang ditunjukkan oleh kedua tokoh yang sama-sama pernah menjabat Menko Kesra itu. Bahasa tubuh keduanya seolah menyampaikan pesan tak ada dendam di antara keduanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketum Golkar hasil Munas Bali Aburizal Bakrie yang terlebih dahulu membuka potret kemesraan semalam dengan Agung Laksono itu lewat twitternya. "Meski beda pendapat, tetap bersahabat," tulis Ical dalam caption foto yang diunggahnya, Kamis (19/3/2015) sekitar pukul 17.00 WIB.

Foto tersebut memperlihatkan Ical dan Agung sedang mengobrol santai. Ical terlihat lebih santai dengan senyum lebar. Menurut Ketua DPP Golkar hasil Munas Bali Tantowi Yahya, itu adalah pertanda baik bahwa meski beda pandangan politik namun keduanya tetap bersahabat.

"Politik itu harus dijalankan secara relaks. Perbedaan keyakinan dan arah politik tidak boleh memutus pertemanan, apalagi yang sudah terbina lama. Di politik itu hari ini musuh, besok jadi teman yang sangat kita butuhkan," kata Tantowi kepada detikcom, Jumat (20/3/2015).

"Kita boleh bertarung di arena politik, persahabatan jalan terus. Itulah yang dipertontonkan oleh ARB dan AL. Politik di lndonesia memerlukan politisi yang santai yang tidak memelihara dendam dan sakit hati. Kalau kita berpolitik secara santai, politik itu indah. Tidak garang seperti sekarang," sambungnya.

Memang lewat momen pertemuan tak sengaja itu Ical dan Agung seolah ingin menunjukkan persahabatan mereka. "Meskipun ada perbedaan-perbedaan politik, meskipun ada persoalan politik, tidak menghilangkan silaturahim," ujar Agung saat dikonfirmasi terpisah.

Namun sayangnya pertemuan itu tidak menjadi pembicaraan islah. Ical masih menempuh jalur hukum, sementara Agung tak mau bernego soal tahta kepemimpinan di Golkar.

"Kalau islah boleh tapi yang mimpin kan kita," ujar Agung.

Lalu apakah kemesraan satu malam Ical dan Agung akan membuahkan islah Golkar ke depan, ataukah hanya menjadi penyejuk di tengah panasnya konflik beringin, kemudian menguap begitu saja?



(van/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads