Kebanyakan Hari Libur Bikin Sebal Warga Malaysia
Senin, 07 Feb 2005 08:08 WIB
Jakarta - Sebagaimana di Indonesia, Rabu dan Kamis (9-10 Febuari) mendatang, Malaysia juga akan menikmati libur nasional. Libur, siapa tak suka? Tapi sebagian di antara rakyat Malaysia menilai terlalu banyak libur adalah menyebalkan.Sebal itu muncul pasalnya layanan publik pun turut prei karena hari libur. Tak ayal, perkara libur ini memicu perdebatan tersendiri di kalangan rakyat negeri jiran lewat media massa setempat.Seperti di Indonesia, hari libur nasional di negara tetangga itu cukup banyak. Pekan ini saja Malaysia nyaris lumpuh karena mulai Rabu hingga Minggu (9-13 Februari) pemerintah telah mengumumkan bahwa pihaknya libur panjang menyusul perayaan Tahun Baru Imlek dan Tahun Baru Islam.Sebelum pekan ini, rakyat Malaysia juga telah menikmati hari libur Hari Idul Adha pada 21 Januari, Thaipusam pada 25 Januari dan Hari Negara Federal pada 1 Februari. Tak semua hari raya itu diperingati oleh semua rakyat di seluruh negeri. Yang jelas, sebenarnya hanya ada 12 hari libur dalam setahun.Media yang memulai debat soal banyaknya hari libur tersebut adalah Utusan Malaysia. Koran itu menyarankan Hari Negara Federal dihapus. Alasannya, peringatan itu hanya diperingati oleh Kuala Lumpur, Labuan dan Putrajaya. Harian itu menilai Hari Negara Federal tidak signifikan untuk dijadikan sebagai hari libur nasional.Sebenarnya, bukan hari libur itu sendiri yang bikin sebal. Yang menjengkelkan adalah hari libur diikuti dengan liburnya layanan publik pada instansi-instansi penting seperti kantor-kantor pemerintah.Seorang pembaca menulis kepada Utusan Malaysia, dia menghitung bahwa kantor-kantor pemerintah di Kuala Lumpur tutup selama 90 hari dalam setahun, termasuk hari Minggu dan Sabtu. "Terlalu banyak hari libur tidak bagus untuk negara berkembang seperti kita," tulis pembaca itu.Pembaca lain menyebut produktivitas anjlok tajam selama bulan-bulan yang penuh hari libur karena dampak psikologis libur panjang.Tentu saja libur panjang ada pendukungnya. Mereka yang mendukung adalah mereka yang berpendapat bahwa hari libur membantu mereka menguatkan hubungan kekerabatan. Bagaimana komentar Anda? Apakah banyak rekan Anda yang cuti pada pekan ini? Atau sindrom libur panjang telah menyerang kantor Anda? Kirimkan cerita Anda ke redaksi@staff.detik.com.
(nrl/)











































