Seperti yang terlihat di Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kalimantan Barat, di kawasan Jeruju, Kota Pontianak, Kalbar. Ada sebuah kapal pencuri ikan asing yang berusaha terlihat seperti dari Indonesia, padahal mereka dari Thailand.
Caranya, mereka menulis nama perusahaan Indonesia seperti: Bima Sakti Kurnia, PT. Namun ada satu kapal yang menuliskannya salah menjadi: Bima Sakit Kurnia, PT. Di bagian bawah kapal biru itu, ada juga tulisan Jakarta dan tak lupa dengan bendera merah putih.
"Ini sebetulnya kapal Thailand. Itu modus saja, masa jadi Bima Sakit," kata Kepala PSDKP Kalbar Sumono Darminto saat memberi penjelasan pada Tim Satgas Illegal Unregulated Unreported Fishing Mas Achmad Santosa, Rabu (18/3/2015).
Mendengar keterangan ini, tim Satgas pun tersenyum. Modus ini memang bukan hal baru. Untuk menyamarkan pencurian, kapal-kapal asing memang sering menyamarkan diri menjadi kapal Indonesia. Setelah dicek, seluruh awaknya berasal dari luar negeri.
Penyidik KKP juga mengingatkan, penamaan kapal kadang bisa jadi menipu. Misalnya, ada kapal yang bernama lambung Sudita 27. Terkadang, ada yang menyimpulkan, kapal-kapal itu milik sebuah perusahaan dan menduga, ada nomor 26, 25 dan seterusnya. Padahal ternyata, itu pun hanya modus penyamaran lainnya.
"Ada yang 5 hari sebelum berangkat baru dibuat itu catnya, jadi jangan ketipu," ucap Kasubdit Penyidikan Direktorat Penanganan Pelanggaran Ditjen Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan KKP RI, Syahnan.
Saat ini, ada sekitar 30 kapal pencuri ikan di dermaga PSDKP Kalbar. Sebagian di antaranya masih dalam tahap penyidikan, sebagian lagi sedang menjalani proses persidangan.
Kondisi kapal ada yang masih bagus, namun tak sedikit yang lapuk dan nyaris tenggelam. Sementara para ABK kapal yang tak jadi tersangka dirawat di penampungan sementara di PSDKP, sebagian lagi Rumah detensi Imigrasi Kalbar.
(mad/vid)











































