"Ini sepertinya ayah dan putrinya, dua-duanya meninggal dunia," kata Rusli, pengendara yang melintas di kawasan ini, kepada detikcom, Rabu (18/3/2015) pukul 15.00 WIB.
Rusli mengirimkan foto korban kecelakaan itu ke pasangmata.com. Terlihat pria yang menjadi korban kecelakaan ini mengenakan kaos merah dan celana jeans biru. Sedangkan anak perempuannya mengenakan kaos berwarna kuning. Mereka berdua tak mengenakan helm.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, PT KAI telah meminta pemerintahan kota untuk menutup perlintasan di Rawabuaya tersebut. Namun permintaan itu ditolak oleh warga.
Menurut Humas Kereta Api DAOP I Bambang S Prayitno, penutupan tiga perlintasan liar tanpa palang pintu yang berada di Stasiun Rawabuaya sudah dilakukan pada 16 Desember 2014 lalu. Namun, sampai sekarang baru dua perlintasan sepanjang 200 meter yang ditutup karena warga menolak dengan alasan membutuhkan akses melintas antar kampung.
"Pemahaman regulasi perlintasan sebidang merupakan daerah rawan kecelakaan masih kurang dipahami masyarakat. Karena perlintasan sebidang atau yang berpotongan langsung antara jalan raya dan jalan rel KA, baik yang dijaga, apalagi tidak dijaga, merupakan daerah rawan kecelakaan," jelas Bambang saat dikonfirmasi, Rabu (18/3/2015).
Bambang mengatakan, penutupan perlintasan liar itu pun sudah disosialisasikan berulang kali kepada masyarakat. Dirinya juga meminta pemerintahan kota memberikan tindakan tegas karena perlintasan tersebut sangat membahayakan.
"Kami selalu mengajak warga untuk paham kalau penutupan untuk apa. Pastinya demi keselamatan perjalanan kereta dan orang yang melintas di situ. Harusnya mereka paham, karena kalau sudah celaka seperti itu, siapa yang mau bertanggung jawab?" ujarnya.
(nal/nrl)











































