Siti dan Dadang datang ke rumah Asyani yang kecil dan sangat sederhana itu. Untuk mencapai rumah Asyani, mereka melewati jalan kecil sepanjang kurang lebih 10 km dari jalan raya besar.
Saat itu, Nenek Asyani terbaring di tempat tidur yang lusuh tanpa sprei. Rambutnya semakin acak-acakan karena terus tidur di bantal di atas pangkuan salah satu kerabatnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan nangis, Bu, kita semua di sini. Ada Pak Bupati juga," kata Siti kepada Asyani berusaha menenangkan, Rabu (18/3/2015).
Namun tangisan Asyani semakin menjadi-jadi. Terlebih mengingat jalan panjang proses peradilan yang masih harus dilaluinya. Siti pun menyeka air mata di pipi Asyani yang mengalir deras.
Tidak banyak percakapan yang terjadi antara Siti dan Asyani. Perbincangan mereka terhambat kosa kata Bahasa Indonesia Nenek Asyani terbilang sedikit.
Saat ditanya mengenai kondisi kesehatan, Asyani lebih banyak menjawab dengan bahasa Madura-Situbondo. "Pusing, takut disuntik," kata Asyani seperti diterjemahkan oleh kerabatnya.
Menurut kerabatnya itu, Asyani mengalami sakit di seluruh badan. Tekanan darahnya pun tinggi. Imbasnya, nafsu makan Asyani turun drastis sehingga tulang kakinya semakin terlihat dan wajahnya tirus.
"Cuma mau bebas saja," tutup Asyani.
(mok/aan)










































