Sebanyak 5 kategori penghargaan diberikan yakni kategori penyiaran investigatif, kategori in depth reporting, kategori laporan investigasi, kategori berita foto, dan kategori karikatur.
Setelah melalui tahapan penilaian, juri memutuskan Isfari Hikmat dari Majalah Detik sebagai juara satu untuk kategori in depth reporting. Penghargaan diberikan atas tema Korupsi SKK Migas yang mengulas skandal THR Sutan Bhatoegana. Majalah Detik mengulasnya dalam edisi 114, 3 Februari 2014 dengan cover Ngeri-ngeri Sutan.
Sementara kategori laporan investigasi diberikan kepada Akbar Tri Kurniawan untuk tulisan di Majalah Tempo dengan tema Tapak Jendral Timah Bangka. Kategori penyiaran investigasi jatuh kepada Harfin Naqsyabandy dari Kompas TV yang mengulas tentang Proyek Abadi Pantura. Kategori berita foto diberikan kepada Afriadi Hikmal dari Jakarta Globe atas karya Malu Akhir Korupsi. Untuk kategori karikatur, Joko Suwarso dari Harian Terbit menjadi juara dengan tema “Dari Rakyat Oleh Rakyat untuk...?”.
Sinta Nuriyah Wahid, istri presiden keempat Republik Indonesia, dalam sambutannya menjelaskan pemenang ini merupaan pendekar-pendekar masa kini dalam memerangi korupsi. “Pendekar-pendekar dengan pena ini memiliki kemampuan tersendiri untuk kepentingan bangsa,” kata Sinta, Selasa (17/3/2015).
Wakil Ketua KPK nonaktif Bambang Widjojanto menjelaskan, jurnalis melalui medianya merupakan kekuatan tersendiri dalam sistem bernegara, power of influence dalam sistem sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Fungsi media sebagai media literasi menampilan kebenaran bukan sekedar cover both side.
“Beritanya bukan sekedar mengutip pejabat atau elit kekuasaan,” kata Bambang.
Sementara, Kordinator ICW Adnan Topan Husodo menyinggung peran penting media dalam agenda anti korupsi. “Peranan media adalah menceritakan kepada masyarakat, membongkar, berbagai macam konspirasi, perselingkuhan antara politisi dengan pengusaha,“ ujar Adnan.
(rni/fdn)











































