Kondisi Agian Semakin Membaik
Sabtu, 05 Feb 2005 20:36 WIB
Jakarta - Kondisi kesehatan Agian Isna Nauli Sitorus (33) semakin membaik, bahkan tangan dan kakinya sudah bisa digerakan. Agian bahkan sudah bisa menebar senyum dan mengenali siapa saja yang mengajaknya bicara. Demikian kondisi Agian Isna Nauli Sitorus diungkapkan dua orang penunggunya Yenni dan Bibah kepada detikcom, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, Sabtu (5/2/2005). "Kata dokter ibu tambah baik kondisinya, tangan dan kaki sudah gerak. Kalau diajak bicara sudah menatap langsung yang mengajaknya berbicara, bicaranya juga sudah lancar," kata Yenni.Menurut Yenni, mengatakan suami Agian, Hasan Panca Kesuma bersama teman-temannya tadi memang berkunjung. Tetapi Hasan sendiri jarang menjenguk sang istri karena kesibukannya belakangan ini, termasuk karena menjadi relawan di Aceh. Yenni juga menambahkan bahwa Agian saat ini sudah tidak berteriak-teriak memanggil-manggil suaminya. Menurut perawat yang dikutip oleh Yenni juga mengatakan bahwa kondisi lecet pada tubuh bagian belakang Agian akibat terlalu lama berbaring di tempat tidur, sudah terlihat sembauh. "Suster (perawat, red) pernah bercerita kepada saya bahwa ibu sudah boleh pulang. Tapi Pak Hasan tidak setuju dan dokter sendiri belum berbicara seperti itu," jelas Yenni ketika ditanya kapan Agian bisa kembali ke rumahnya di Bogor. Tim dokter yang menangani Agian sendiri saat ini belum bisa dimintai keterangan soal kondisi terakhir Agian, karena memang sedang tidak berada di tempat. Namun menurut perawatnya, pasiennya sudah bisa duduk dan saat ini sudah bisa mengenakan kursi roda. Seperti diberitakan, Hasan sempat meminta Agian disuntik mati ke pengadilan karena diyakini tidak bisa sembuh lagi pada September 2004 lalu. Pada bulan itu, Ny Agian sudah hampir tiga bulan lumpuh setelah melahirkan anak keduanya, Rayge Atila Nurullah Kesuma, melalui operasi caesar di Rumah Sakit Islam Bogor.Keputusan melakukan suntik mati diambil Hasan karena dia sudah tak kuat melihat penderitaan istrinya. Agian, yang menderita kerusakan otak permanen, saat itu dirawat di unit stroke Suparjo Rustam, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).Setiap hari, hampir selama 24 jam, Hasan menunggui istrinya di RSCM. Buntutnya, anak-anak pasangan ini diurus tetangga karena Hasan tidak bisa pulang ke rumah dan tidak punya saudara lainnya. Kala itu Hasan mengaku, ia ingin sekali melihat anak-anaknya, tetapi dia tidak mungkin meninggalkan istrinya sendirian. Penyebabnya, setiap hari dia harus membeli obat untuk istrinya.Berbagai upaya dilakukan Hasan agar permohonan suntik mati dikabulkan. Misalnya dengan hearing ke DPRD Bogor dan mengajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Namun pengadilan menolaknya. Dalam kasus ini, sempat mencuat indikasi malpraktek.
(zal/)











































