Pernyataan keras Bambang bermula saat KMP mendorong angket DPR terhadap Menkum HAM Yasonna Laoly. Bambang menyebut Yasonna sebagai begal demokrasi.
"Jadi musuh mayarakat tambah lagi, ada begal politik sekaligus begal demokrasi. Tidak harus kuliah untuk membaca sikap Laoly yang telah membegal demokrasi dan partai politik," kata Bambang Soesatyo kepada detikcom, Jumat (13/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalimat keras berikutnya yang disampaikan Bambang adalah mimpi basah. Bambang menyebut Golkar kubu Agung sedang mimpi basah karena menikmati kemenangan semu, sementara proses hukum gugatan Aburizal Bakrie sedang berjalan.
"Hehehe...disahkan menang saja belum sudah merasa menang dan koar-koar mau PAW (Pergantian Antar Waktu anggota DPR). Lagi pula saya tidak akan mati dicopot dari DPR. Jangan bermimpi basah dululah," sindir Bambang terhadal Agung yang ingin mencopotnya dari posisi Sekretaris FPG DPR.
Nah kalimat keras ketiga Bambang membuat situasi politik semakin panas. Karena istilah yang dilontarkan cukup kontroversial. Kalimat itu digunakan Bambang untuk menyerang politikus Golkar pro Ical yang pindah ke kubu Agung yakni Mahyudin, Airlangga Hartarto dan Erwin Aksa.
"Dalam politik, integritas, loyalitas dan komitmen adalah modal utama. Itulah sebabnya ketika tiba-tiba seorang politisi kehilangan jati diri dan kecerdasannya hanya karena diiming-imingi atau terancam kedudukan serta jabatannya, lalu berubah sikap 180 derajat, maka politisi itu layak disebut 'lonte politik' atau politisi KKO, kanan kiri oke," kata Bambang kepada wartawan, Senin (16/3/2015).
Apa yang disampaikan Bambang pun menuai reaksi keras dari kubu Agung. Kubu Agung mengingatkan agar Bambang berbicara yang sopan, apalagi sampai saat ini dia masih duduk sebagai anggota DPR.
"Saya nasihati ke saudara Bamsoet, mari berbicara yang sopan. Kita masih di Indonesia, kedepankanlah adat orang Timur. Tidak pantas seorang anggota parlemen bicara sekasar itu. Anggota DPR itu dipanggil yang mulia, seyogyanya kalimat yang dilontarkan seorang anggota parlemen juga mulia adanya," kata Leo Nababan saat dihubungi, Senin (16/3/2015).
(van/nrl)











































